Art

Sukarno, Manizer, dan Tugu Tani

KARYA patung Matvey Manizer (1891-1966) berjudul “Monumen Pahlawan Perang Kemerdekaan Indonesia” (1963), berbahan perunggu dan marmer dengan tinggi patung 300 cm dan tinggi alasnya 400 cm. (Postmodum)

DI tengah hiruk pikuk Kota Jakarta, ada sebuah ikon monumental bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga hari ini. Sebuah keharmonisan hubungan antara Uni Soviet dan Indonesia di masa lalu terus terpelihara sebagai penanda “persaudaraan” yang abadi. 

Adalah karya patung Matvey Genrikhovich Manizer (1891-1966) berjudul “Monumen Pahlawan Perang Kemerdekaan Indonesia” (1963), berbahan perunggu dan marmer dengan tinggi patung 300 cm dan tinggi alasnya 400 cm. 

Presiden Sukarno mengunjungi Uni Soviet sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1956, 1959, 1961, dan 1964. Semua kunjungan sangat penting karena berhubungan dengan hubungan diplomasi yang dapat menguntungkan kedua belah pihak. 

Di sisi lain, usaha Sukarno untuk anti kolonialisme, yaitu merebut Nugini Belanda (Papua Barat: 1949–1962) dari Hindia Belanda secara total, begitu kuat dan berapi-api. 

Kunjungan pada 1961 di Moskwa, ibu kota Uni Soviet, misalnya, sangat penting karena bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun Sukarno ke-60. Ia menghabiskan waktu kunjungan pada 5-13 Juni 1961. 

Pada 5 Juni 1961, Sukarno mendarat di Bandara Vnukovo, Moskwa. Menteri Pertahanan Jenderal Nasution dan Dubes Adam Malik (Dubes untuk Soviet dan Polandia, 1959-1962) menyambut Sukarno karena Nasution datang lebih dahulu. 

Pada kesempatan kunjungan itu, saat acara pesta kenegaraan di Kremlin, Nikita Khrushchev, memberikan hadiah ulang tahun kepada Sukarno, berupa miniatur “Patung Wanita” setinggi 2 meter karya Matvey Manizer dan sebuah mobil limousine GAZ Chaika M13. 

Tidak hanya itu, Khrushchev juga memberi kejutan lain berupa lukisan karya Konstantin Egorovich Makovsky berjudul “Pribite Nevesti” (3 x 4,5 meter, 1881). Patung dan lukisan tersebut tersimpan di Istana Bogor. 

Terinspirasi Zoya

Kisah tentang ketertarikan Sukarno pada karya patung dikisahkan oleh Yuri Sholmov, seorang penulis Rusia. Itu terjadi saat Sukarno melihat patung “Zoya Kosmodemyanskaya” dalam perjalanan menuju pembangkit listrik tenaga nuklir pertama di dunia di Obninsk, dekat Moskwa. 

Melihat patung Zoya di pinggir jalan, presiden meminta rombongan untuk berhenti. Beberapa hari kemudian, saat berkeliling Metro Moskwa, perhatian Sukarno kembali tertuju pada dekorasi artistik stasiun Ploshchad Revolyutsii dan Izmailovskaya, yang dirancang oleh Matvey Manizer. Atas permintaan Sukarno, seniman tersebut menerimanya di studio. 

Singkatnya, Sukarno memberi tugas penting kepada Manizer untuk membuat sebuah patung “Tani” dengan corak keindonesiaan untuk dipajang di Jakarta. Seniman itu menyanggupinya sehingga membuat langsung di studionya. 

“Monumen Pahlawan Perang Kemerdekaan Indonesia” (1963) atau yang lebih dikenal “Tugu Tani” di Jakarta. (Postmodum)

Setelah selesai pengerjaan, patung tersebut dibawa ke Indonesia dengan kapal. Patung tersebut diresmikan pada tahun 1963, terletak di persimpangan Jalan Menteng dan Prapatan, yang merupakan tempat penting selama masa revolusi Agustus 1945. 

Patung berjudul Monumen Pahlawan Perang Kemerdekaan Indonesiatersebut menjadi kontroversial karena petani bersenjata terkadang diidentikkan dengan komunisme. 

Monumen yang lebih dikenal sebagai “Tugu Tani” itu berbentuk seperti seorang petani Jawa, dengan senapan tersampir di bahu kirinya, menatap waspada ke arah kejauhan. 

Sementara, seorang wanita muda dengan pakaian tradisional, selendangnya berkibar tertiup angin, berdiri di bawahnya, menawarkan semangkuk nasi kepada  prajurit tersebut. 

Di bawah patung, tertulis jelas petuah yang sangat bijak. Bunyinya: “Hanya bangsa yang menghormati pahlawannya yang dapat menjadi besar. Sukarno.” (P-1)

Related posts

Estetika “Seen”

Visualisasi Puisi di Atas Kanvas

Menjelajahi Dunia Resiyaman