Oleh: Antonius Tanan
SELAMAT datang di pameran lukisan tunggal perdana seniman Resiyaman bertajuk Seen & Unseen di Jakarta, pada 10-19 April 2026. Saya pikir ini adalah sebuah ruang kreatif di mana kata-kata tidak hanya dibaca, tetapi juga dapat dipandang dan dirasakan.
Pameran ini berpijak pada keyakinan bahwa apa pun yang bisa dirasakan, pasti dapat diungkapkan melalui puisi. Dan, apa pun yang bisa diimajinasikan, pasti dapat disampaikan melalui kanvas.
Ketika puisi diterjemahkan menjadi lukisan, terjadi sebuah keajaiban kreatif: sebuah perenungan mendalam telah berproses lebih dulu melahirkan teks, yang kemudian memandu imajinasi untuk menyentuh sudut-sudut baru hingga lahirlah karya visual. Ini adalah bentuk kreativitas sejati yang melampaui sekadar teknik; ini dialog antardimensi.
Nah, bagaimana proses ini bertransformasi menjadi sebuah karya artpreneurship? Sebuah karya seni dapat memiliki nilai ekonomi dan sosial yang berkelanjutan hanya jika ia mampu menyentuh sisi kemanusiaan yang nyata.
ARUNDHATI, 100 X 100 CM, 2024, RESIYAMAN.
Menurut saya, di sinilah dua pilar artpreneurship bermain secara penting. Pertama, hadirnya empati terhadap pain atau keresahan yang dialami baik oleh individu, masyarakat tertentu, maupun bangsa.
Kedua, adanya proses pivoting—sebuah adaptasi kreatif untuk memastikan bahwa sinergi puisi dan lukisan ini mampu menawarkan “kesembuhan” atau “pencerahan”. Sebuah dialog terus menerus dengan penerima pesan untuk memastikan bahwa pesan utama dapat ditangkap dan dipahami dengan tepat.
Sebuah karya seni memiliki nilai ekonomi dan sosial jika ia mampu menyentuh sisi kemanusiaan.
Karya dalam pameran ini bukanlah sekadar pajangan dinding. Pandanglah ini semua sebagai respons kreatif dan estetis terhadap gejolak zaman, yang dirancang untuk menghunjam tepat di sanubari. Di balik setiap sapuan yang ‘terlihat’, tersimpan saripati perenungan mendalam yang ‘tak terlihat’. Oleh karena itu, sekadar melihat tidaklah cukup.
Proses kuratorial dari Iwan Jaconiah di pameran Seen & Unseen ini sesungguhnya mengajak Anda untuk menikmati setiap karya sambil merenung dan berimajinasi. Baik puisi maupun lukisan.
Jelajahi ruang di antara kata dan warna, lalu temukan makna-makna tersembunyi yang berbicara secara personal menurut versi Anda sendiri. Selamat menikmati secara mendalam. (P-1)
ANTONIUS TANAN, Pedagog nasional, praktisi artpreneurship, dan pemuisi. Ia dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, 9 April 1960. Menulis tiga novel: Empat Sekawan dan Cinta, Tantangan Satu Miliar Ciputra, dan The Gifted Club. Karya puisinya termaktub dalam buku antologi puisi Doa Tanah Air: suara pelajar dari negeri Pushkin (Jakarta: Pentas Grafika, 2022).