RESIYAMAN, seniman kontemporer Indonesia, bersiap menggelar pameran lukisan tunggal perdananya bertajuk Seen & Unseen di Balai Budaya Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, pada 10-19 April 2026.
Sebanyak 25 karya abstrak dan abstrak ekspresionism akan dipajang. Namun, ini bukan sekadar deret kanvas di dinding. Ini semacam jurnal batin yang dibuka ke publik.
Resiyaman tak lahir dari ruang hampa. Ia mengais ilmu di Indonesia, Prancis, dan Rusia. Jejak-jejak lintas benua itu membentuk spektrum estetikanya. Berlapis, kadang riuh, dan kadang hening. Warna-warnanya berani, teksturnya mengalir. Seperti ada yang ingin keluar, tapi juga ingin disembunyikan.
Judul Seen & Unseen terasa jujur. Yang “seen” adalah yang kasatmata: warna, garis, gerak. Yang “unseen” adalah yang bergetar di bawahnya. Emosi tersembunyi, energi kosmik, lapisan alam bawah sadar yang tak selalu bisa dijelaskan dengan kata.
Di sebuah ruang yang tak sepenuhnya sunyi, warna-warna akan berbicara.
Menariknya, Resiyaman akan melakukan live painting di hadapan pengunjung. Sebuah gestur yang intim sekaligus berisiko. Ia membiarkan proses kreatifnya disaksikan. Tanpa edit, tanpa potong. Dalam dunia yang serbacepat dan serbaterkurasi, pilihan ini terasa segar.
“Pameran bersama sering saya ikuti. Tapi ini pameran solo perdana. Tema utama dalam karya saya, yaitu tentang alam dan orang-orang tercinta di sekitar saya” ujarnya, santai.
SENIMAN Resiyaman berpose di studiooasis, Jakarta Pusat. (Postmodum)
Lahir di Jakarta, 9 Juni 1990, Resiyaman meraih gelar Master dari High School of Economics, Moskwa (2015-2017). Sekembalinya ke Tanah Air, ia mengajar di sebuah universitas swasta selama tujuh tahun akademik. Di sela peran akademiknya, proses kreatifnya terus berjalan. Sunyi, konsisten.
Pameran ini menghadirkan dua kacamata, sosiologis dan kulturologis. Dalam masyarakat yang kian terfragmentasi, figur-figur dalam lukisannya kerap muncul berulang, berkelompok, membentuk pola. Seperti refleksi struktur sosial kita. Terhubung, tapi juga terpisah.
Secara kultural, ia meminjam kekuatan pola organik dan repetisi, mengingatkan pada tradisi seni rupa etnik, namun dibingkai dalam narasi modern. Ada akar, tapi juga ada keberanian untuk melompat.
Meracik puisi di atas kanvas
Ketajaman insting seninya dipengaruhi kecintaannya pada sastra. Ia menyerap pencarian makna eksistensial dari Ernest Hemingway, Ezra Pound, dan T.S. Eliot, para penulis Lost Generation yang menyoal kegamangan zaman. Dari Beat Generation; Allen Ginsberg, Jack Kerouac, dan William Seward Burroughs, ia memetik kebebasan berekspresi yang jujur dan spontan.
Di Moskwa, ia tenggelam dalam dunia Boris Pasternak, Fyodor Dostoevsky, Leo Tolstoy, Mikhail Bulgakov, hingga Vladimir Nabokov. Nama-nama besar itu tak hadir sebagai bayang-bayang melainkan sebagai resonansi, membentuk landasan fisiologis dan kedalaman emosionalnya.
MENIKMATI suasana di studiobougainvillea, Kota Tangerang Selatan. (Postmodum)
Dalam seni rupa, ia bersandar pada energi ekspresif Affandi dan Men Sagan. Dari Paul Klee ia belajar eksplorasi bentuk dan teori warna. Dari Jackson Pollock dan Mark Rothko, ia menyerap kebebasan berabstraksi. Cahaya Claude Monet dan getar impresionisme Van Gogh ikut memperkaya sensibilitasnya.
Sementara di Rusia, tempat yang cukup lama disinggahi, ia mengkaji Ivan Aivazovsky, Kazimir Malevich, dan Wassily Kandinsky, para maestro yang menembus batas realitas.
Selama hampir tiga dekade berkarya, Resiyaman telah menulis lebih dari 450 puisi dan melahirkan lebih dari 50 lukisan. Sebagian di antaranya kini bermuara pada Seen & Unseen.
Pameran ini bukan sekadar agenda seni. Ia adalah maraton kreatif, juga teka-teki kehidupan. Di antara warna yang tampak dan tak tampak, ada satu hal yang pasti: Resiyaman sedang mengajak kita melihat dan sekaligus merasa. (P-1)
Editor: Iwan Jaconiah