Art

Estetika “Seen”

Oleh: Merwan Yusuf 

KARYA Resiyaman yang berjudul Menggapai (Acrylic on canvas, 80 x 100 cm, 2024) dalam pameran tunggalnya bertajuk Seen & Unseen ini merupakan sebuah manifestasi visual yang menarik untuk dibedah.

Ia adalah seniman muda berbakat. Lukisannya tidak hanya sekadar tumpukan pigmen di atas kanvas, melainkan sebuah dialog antara impuls kanak-kanak yang jujur dengan kompleksitas struktur organik.

Melihat karya Resiyaman maka bisa kita tarik ke belakang. Terutama, gerakan CoBrA (Copenhagen, Brussels, Amsterdam) yang lahir pasca-Perang Dunia II berupaya menghancurkan sekat-sekat intelektualitas yang kaku dalam seni. Mereka memuja spontanitas, mitologi pribadi, dan teknik yang “tidak terdidik” menyerupai gambar anak-anak atau seni primitif.

Dalam Menggapai, Resiyaman menghidupkan kembali “monsteritas yang ramah” ini. Sosok figuratif yang menyerupai makhluk hibrida antara beruang dan monster dengan senyum lebar bergerigi bukanlah representasi ketakutan, melainkan simbol vitalitas.

Penggunaan garis hitam yang tebal dan kasar (gestural) menunjukkan penolakan terhadap presisi akademis, lebih mengutamakan kejujuran emosional daripada keindahan bentuk konvensional.

Jika kita melihat lukisan ini melalui lensa sains, kita tidak melihat “gambar”, melainkan sebuah sistem entropi. Latar belakang lukisan yang kaya akan tekstur—perpaduan antara biru cobalt, merah marun, dan percikan kuning—menyerupai struktur mikroskopis jaringan sel atau nebula di ruang angkasa.

Teknik splatter (percikan) kuning yang menyebar di seluruh permukaan kanvas mengikuti pola stokastik. Secara saintifik, ini merepresentasikan energi yang bergerak bebas, tidak terikat oleh gravitasi pusat, menciptakan kesan bahwa figur tersebut sedang “menggapai” atau terlarut dalam sup primordial eksistensi. 

Bunga di bagian perut figur dan bentuk mata yang konsentris menciptakan pengulangan pola yang sering ditemukan dalam biologi. Ini adalah abstraksi dari proses pertumbuhan organik; sebuah upaya untuk memvisualisasikan kehidupan pada tingkat molekuler yang kacau namun memiliki ritme tersendiri.

Budaya seringkali menuntut ketertiban, namun Resiyaman justru merayakan “kekacauan yang terorganisir”. Judul Menggapai memberikan dimensi filosofis: apa yang sebenarnya sedang diraih?

Dalam konteks budaya modern yang serba terukur, lukisan ini adalah sebuah interupsi. Sosok monster yang tersenyum lebar dengan bunga di perutnya adalah antitesis dari alienasi manusia modern. Ia merepresentasikan bagian dari jiwa kita yang masih “liar”, yang belum terjinakkan oleh norma sosial. 

Penggunaan warna kuning yang dominan sebagai aksen “cahaya” di atas kegelapan latar belakang menyiratkan harapan atau pencerahan yang sedang diupayakan (digapai) di tengah kompleksitas hidup yang tumpang tindih.

Menggapai ialah sebuah eksperimen estetika yang berhasil menjembatani keliaran emosi CoBrA dengan logika abstraksi alam semesta. Lukisan ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap struktur yang tampak kacau secara saintifik, terdapat dorongan primitif untuk terus tumbuh, tersenyum, dan meraih sesuatu yang lebih tinggi. 

Semangat berkarya di kalangan anak muda seperti Resiyaman ini patut diberi apresiasi setinggi-tingginya lewat pameran solo pertamanya. Ini sebagai bekal menuju ke masa depan yang jaya. (P-1

 

MERWAN YUSUF, Pemerhati Seni, tinggal dan bekerja di Jakarta.

Related posts

Visualisasi Puisi di Atas Kanvas

Menjelajahi Dunia Resiyaman

Resiyaman: Seen & Unseen