DI balik tumpukan berkas kebijakan dan riuh meja birokrasi, kebudayaan sering kali kehilangan nyawanya ketika ia direduksi sekadar menjadi angka dan formalitas administratif.
Namun, di tangan Prof. Dr. Bambang Wibawarta, S.S., M.A., Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan yang juga merupakan seorang akademisi berdedikasi, diplomasi budaya justru menemukan ruang yang segar, cair, dan reflektif. Selayaknya obrolan hangat di hadapan secangkir kopi.
Perjalanan Prof. Bambang menyeberangi batas antara dinginnya lorong akademis dan dinamisnya meja pembuat kebijakan memberikan perspektif yang terbilang selaras dengan komitmennya terhadap Asta Cita dan Pemajuan Kebudayaan Nasional yang dicetuskan Presiden Prabowo Subianto.
Sebagaimana nilai-nilai luhur kebudayaan tidak berhenti sebagai teori di ruang kelas, tetapi mewujud menjadi kebijakan nyata yang bernapas dan berdampak bagi masyarakat secara luas di Republik ini.
Dalam sesi “Ngopi Budaya” kali ini, Postmodum mengajak Anda menyeruput gagasan, pemikiran, serta kisah di balik layar perjuangan Prof. Bambang merawat akar budaya bangsa di tengah arus birokrasi modern. Berikut petikan wawancara khusus di Jakarta, pada Minggu, 19 Juli 2026.
Publik penasaran bagaimana seorang profesor kajian budaya menghadapi realitas birokrasi Indonesia?
Dunia akademik dan birokrasi sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Bedanya, di kampus kita membangun gagasan, sedangkan di birokrasi kita harus memastikan gagasan itu dapat diwujudkan menjadi kebijakan yang berdampak nyata.
Bagi saya, keduanya justru saling melengkapi. Pengalaman sebagai akademisi membantu saya melihat persoalan secara komprehensif, sementara birokrasi mengajarkan bahwa perubahan besar harus dibangun melalui kolaborasi, kesabaran, dan kerja yang sistematis.
Yang saya syukuri, saya mendapat kesempatan untuk mengimplementasikan apa yang selama ini saya ajarkan di ruang kuliah. Sebagai dosen, saya mengampu mata kuliah seperti Diplomasi Budaya, Kebijakan Kebudayaan (Cultural Policy), dan Dinamika Kebudayaan.
Selama bertahun-tahun kami mendiskusikan bagaimana budaya dapat menjadi instrumen pembangunan, bagaimana kebijakan kebudayaan dirumuskan, dan bagaimana kebudayaan beradaptasi terhadap perubahan sosial dan global.
Kini, ketika berada di Kementerian Kebudayaan, saya dapat melihat secara langsung bagaimana teori, hasil penelitian, dan gagasan akademik diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang berdampak bagi masyarakat.
Tentu, praktiknya jauh lebih kompleks dibandingkan teori di kelas karena harus mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari regulasi, anggaran, koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah, hingga kebutuhan masyarakat yang sangat beragam.
Bagi saya, inilah jembatan yang ideal antara dunia akademik dan birokrasi. Kampus memberikan landasan berpikir yang kuat, sementara birokrasi menjadi ruang untuk menguji sekaligus mewujudkan gagasan tersebut dalam kehidupan nyata.
Saya berharap pengalaman ini juga dapat memperkaya proses pembelajaran, karena apa yang saya ajarkan bukan hanya berdasarkan teori. Tetapi, juga pengalaman nyata dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan kebudayaan di tingkat nasional.
Prof Bambang, dari membaca teks-teks budaya di ruang kuliah hingga sekarang harus menata regulasi budaya nasional di kementerian baru, apa kejutan terbesar yang Prof temukan?
Kejutan terbesar ialah menyadari bahwa kebudayaan Indonesia jauh lebih kaya daripada yang pernah saya pelajari di ruang kelas. Di kampus, kita banyak membaca teori tentang budaya dan menganalisis berbagai konsep kebudayaan.
Namun, ketika turun langsung ke lapangan, saya melihat sendiri bahwa budaya benar-benar hidup di tengah masyarakat—dalam bahasa, tari, musik, ritual, pengetahuan tradisional, arsitektur, kuliner, hingga cara masyarakat menjaga alam dan membangun hubungan sosial. Kekayaan itu begitu beragam dan terus berkembang.
Hal lain yang juga sangat membuka wawasan saya ialah betapa besar pengaruh kebijakan kebudayaan terhadap kehidupan masyarakat. Selama mengajar, saya membahas cultural policy sebagai sebuah konsep akademik. Namun ketika terlibat langsung dalam penyusunan dan pelaksanaannya, saya merasakan bahwa kebijakan kebudayaan bukan sekadar dokumen atau regulasi.
Di balik setiap kebijakan terdapat dampak nyata bagi pelaku budaya, seniman, komunitas, pengelola cagar budaya, pemerintah daerah, industri kreatif, hingga masyarakat luas.
Kebijakan yang tepat dapat membuka ruang berkarya, memperkuat identitas bangsa, melestarikan warisan budaya, menciptakan lapangan kerja melalui ekonomi budaya, bahkan memperkuat diplomasi Indonesia di dunia internasional. Sebaliknya, jika tidak dirancang dengan baik, banyak potensi budaya yang bisa hilang atau tidak berkembang secara optimal.
Pengalaman ini semakin meyakinkan saya bahwa tugas pemerintah adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan kebudayaan tumbuh, berkembang, diwariskan, dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. Pada akhirnya, kebudayaan bukan hanya tentang menjaga masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan bangsa.
Boleh diceritakan rutinitas pagi baru seorang Sekjen Kebudayaan? Apakah masih sempat membaca buku atau mengoreksi jurnal?
Pagi biasanya dimulai cukup awal dengan membaca laporan, merespon berbagai surat, membuat disposisi, menyiapkan agenda, dan mengikuti berbagai rapat koordinasi. Tetapi saya tetap berusaha menyediakan waktu untuk membaca. Tidak selalu jurnal ilmiah seperti dulu, tetapi juga terkait kebijakan, buku sejarah, kebudayaan secara luas.
Selain itu, tentu saja membaca peta geopolitik, dan sebagainya. Bagi saya, membaca bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjaga cara berpikir agar tetap jernih di tengah padatnya pekerjaan administratif. Seorang birokrat juga harus terus belajar.
Bagaimana Prof menyelaraskan bahasa akademis yang idealis dengan bahasa birokrasi yang taktis?
Saya selalu percaya bahwa kebijakan yang baik harus lahir dari gagasan yang baik. Akademisi mengajarkan kita berpikir mendalam, sedangkan birokrasi mengajarkan bagaimana mewujudkan gagasan itu secara realistis.
Oleh karena itu, saya sering mengatakan bahwa idealisme adalah kompasnya, sedangkan birokrasi adalah kendaraan yang membawa kita menuju tujuan. Kalau hanya punya kompas tanpa kendaraan, kita tidak akan sampai. Sebaliknya, kalau punya kendaraan tanpa kompas, kita bisa tersesat.
Prof lama mendalami budaya luar seperti Jepang. Apa resep rahasia mereka yang bisa kita ‘curi’?
Yang perlu kita pelajari bukan meniru produknya, tetapi memahami ekosistemnya. Jepang berhasil karena mereka percaya bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi investasi masa depan. Anime, manga, kuliner, desain, musik, hingga permainan digital semuanya berakar pada identitas budaya mereka.
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang bahkan lebih besar. Kita memiliki ribuan tradisi, bahasa, cerita rakyat, seni pertunjukan, kuliner, hingga kekayaan alam yang luar biasa. Tugas kita ialah mengemasnya dengan cara yang relevan bagi generasi masa kini tanpa kehilangan jati dirinya. Saya percaya, Indonesia tidak perlu menjadi Jepang kedua. Indonesia harus menjadi Indonesia yang dikenal dunia.
Bagaimana kementerian melihat potensi anak muda sebagai duta diplomasi budaya?
Anak muda justru berada di garis depan diplomasi budaya hari ini. Sekarang diplomasi tidak hanya dilakukan melalui konferensi internasional, melainkan melalui musik, film, animasi, gim, media sosial, fesyen, hingga konten digital.
Satu video kreatif bisa menjangkau jutaan orang di berbagai negara. Oleh karena itu, kementerian ingin terus memberikan akses, dan membuka ruang kolaborasi agar kreativitas anak muda bertemu dengan kekayaan budaya Indonesia. Kalau budaya bertemu teknologi, dampaknya bisa sangat besar.
Kalau ada satu aspek budaya Indonesia apa yang paling ingin Prof perkenalkan ke anak muda dunia?
Saya ingin dunia mengenal filosofi keberagaman Indonesia. Banyak negara memiliki budaya yang hebat. Tetapi, tidak banyak negara yang mampu menjaga ribuan budaya hidup berdampingan dalam satu identitas nasional.
Indonesia ialah laboratorium peradaban yang menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan sumber kreativitas. Itulah pesan budaya Indonesia yang menurut saya sangat relevan bagi dunia saat ini. (P-1)
Editor: Iwan Jaconiah