Pusaka Pramoedya Ananta Toer

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

WARISAN Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 – 30 April 2006) dalam sastra Indonesia tidak hanya soal estetika bahasa. Namun, tentang “Sastra Perlawanan” yang seringkali tercuat dalam pelbagai diskusi sastra. 

Dari balik jeruji besi tanpa kertas dan pensil, semasa hidupnya, Pramoedya pernah melahirkan Minke dan Nyai Ontosoroh. Kini, sudah banyak diadaptasi dan dipentaskan ke dalam teater dan layar lebar. Tokoh-tokoh tersebut tanpa disadari telah membangkitkan kesadaran nasionalisme kita. 

Tepat 20 tahun yang lalu, Pram, begitu sapaan akrabnya, berpulang. Namun, seperti katanya sendiri, ia menolak untuk hilang. Melalui lembaran Tetralogi Buru, ia tidak hanya memberikan kita karya sastra, tapi juga cermin untuk melihat identitas bangsa. 

Hari ini kita mengenang kembali Sang Maestro yang mengajarkan bahwa keberanian bisa lahir dari ujung pena. Dunia mengakui Pram lewat berbagai nominasi Nobel. Namun, bagi Indonesia, ia adalah kompas moral yang mengingatkan bahwa keberanian ialah modal utama dalam hidup. 

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Petuah-petuah Pram sangat memantik semangat generasi muda baheula (dulu) dan barangkali era kekinian. Salah satunya berbunyi; ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.’ 

Pusara

Di tempat pembaringan keabadiannya, ya di Karet Bivak, Jakarta, pertengahan pekan ini, sejumlah orang —  entah sastrawan, peneliti, atau pembaca —  berziarah ke makamnya. Ada yang menunaikan doa dan ada pula yang menabur bunga. Ya, Pram ialah novelis ternama yang pernah bangsa ini miliki. 

Warisan Pram bagi sastra Indonesia sangat masif karena ia membawa perspektif sejarah yang jujur dan berpihak pada kemanusiaan. Tak mengherankan jika novel-novelnya yang paling banyak diterjemahkan ke bahasa-bahasa asing. Setidaknya lebih dari 45 bahasa. 

Semangat pengarang itu selalu muncul sebagai sebuah simbol keteguhan yang diwariskannya bagi generasi-generasi berikutnya. Ia seakan berkata ‘Tetaplah berkarya meski dalam pengasingan dan sensor politik yang ketat’. 

Sudah dua dekade Pram pergi. Meski begitu, suaranya tetap bergema di rak-rak toko buku dan di kepala setiap anak muda yang merindukan keadilan. Sastra kita tidak akan pernah sama tanpa sumbangsih dari Sang Raksasa Sastra, itu. (P-2)

Related posts

Pentateuch Agung Dostoevsky

Berburu Pendidikan Rusia

Literasi