Wiwik Oratmangun : Meredam Rasa di Amsterdam

Pelukis Wiwik Oratmangun bersantai di Beijing. (Istimewa)

PELUKIS Indonesia Wiwik Oratmangun akan mengikuti pameran bersama seniman kontemporer Indonesia – Belanda bertajuk Timelapse : Commemorating 115 Years of Borobudur Temple Restoration di Indonesia House Amsterdam, Belanda, pada 8-16 September 2026. 

Lewat helatan seni dunia di Brachthuijzerstraat 4, Amsterdam, itu, Wiwik menghadirkan corak lukisan yang lekat dengan nuansa estetika alam sebagaimana menjadi corak, warna, dan gaya lukisannya dalam satu dasawarsa terakhir. 

Keharmonisan dan keindahan karya seni istri Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, itu, tidak diragukan lagi. Dukungan total diberikannya demi karir di dunia seni lukis internasional. 

Wiwik dan suaminya Djauhari Oratmangun. (Istimewa)

Wiwik terkenal luas lewat karya-karyanya yang terpengaruh dengan gaya Eropa seperti Claude Monet (1840–1926) dan Vincent Van Gogh (1853-1890). Namun, Wiwik sangat piawai sebab ia mengusung nuansa alam ke-Indonesia-an secara lihai. 

“Saya sedang di Belanda untuk (mengikuti) pameran Indonesia dan the Netherlands,” tulis Wiwik lewat pesan pendeknya dari Belanda kepada Postmodum, pada Senin, 31 Agustus 2026. Ia baru saja melakukan perjalanan panjang dari Beijing, tempat ia bertugas menemani suami tercintanya bekerja sehari-hari. 

Pameran bertajuk Timelapse Borobudur menghadirkan 26 seniman Indonesia dan Belanda. Dari Indonesia terdiri dari 17 peserta. Selain Wiwik, para seniman yang terlibat ialah Awang Behartawan, Chryshnanda Dwilaksana, Dadi Setyadi, Easting Medi, Erica Hestu Wahyuni, Hadi Soesanto, Januri, Mola, Munir TPR, Novi Suwondo, Pupuk DP, Sujono Keron, Umar Chusaeni, Wawan Geni, Yasumi Ishii, dan Yohan Suwondo. 

Sementara sembilan (9) seniman dari Belanda, yaitu George Heidweiller, len van Wierst, Leo van Vegchel, Liesbeth Bijwaard, Marianne Venderbosch, Mark Dijkstra, Shelly Lapré, Stella van den Eertwegh, dan Tom van den Boomen. 

Wiwik meredam rasa di Amsterdam. Membawa inspirasi seni Indonesia untuk dunia!

Pameran Timelapse Borobudur, sebuah presentasi khusus seni kontemporer yang mengambil inspirasi dari candi Borobudur di Jawa Tengah. Itu candi merupakan salah satu monumen Buddha paling mengesankan di dunia. 

Warisan Borobudur

Candi Borobudur, yang dibangun pada abad kedelapan dan kesembilan di Jawa Tengah, dikenal di seluruh dunia karena nilai sejarah dan budayanya yang luar biasa. Candi ini merupakan ikon warisan budaya tempat seni, arsitektur, dan spiritualitas bertemu. Pameran Timelapse Borobudur mengeksplorasi bagaimana signifikansi ini terus hidup dari waktu ke waktu dan ditafsirkan ulang berulang kali oleh para seniman.

Proses berkarya Wiwik. (Istimewa)

Proyek ini dimulai pada tahun 2025 dengan pameran yang sukses di Museum Borobudur dan Limanjawi Art House di Magelang. Limanjawi sendiri didirikan oleh Umar Chusaeni. Seniman dari berbagai penjuru dunia sering mampir untuk berkolaborasi dengannya. 

Kini, proyek tersebut berlanjut di Amsterdam. Pameran bersama seniman Indonesia-Belanda itu memiliki ketertarikan yang sama terhadap Borobudur sebagai simbol waktu, ingatan, spiritualitas, dan keterkaitan. Karya seni, mulai dari lukisan, instalasi hingga fotografi, semuanya menawarkan perspektif unik tentang Borobudur. 

Jembatan antar budaya 

Timelapse Borobudur bertujuan untuk melakukan eksplorasi kebudayaan, bukan sekadar memamerkan seni. Pameran ini menekankan ikatan budaya antara Indonesia dan Belanda yang erat dalam ikatan sejarah yang panjang. 

Wiwik dan anak-anaknya dalam sebuah pameran. (Istimewa)

Pameran ini menunjukkan bahwa seni dapat menumbuhkan pengertian, kerja sama internasional, dan dialog seni. Membaca kembali masa lalu dan masa kini lewat pertemuan seni tradisi dan inovasi terbarukan. 

Bagi masyarakat Indonesia yang sedang berencana untuk melakukan pelawatan wisata ke Belanda, pameran seni ini dapat menjadi pilihan sembari menikmati suasana awal musim gugur di Negeri Kincir Angin, itu. 

Nah, kehadiran Wiwik di Belanda seakan membawanya kembali bernostalgia. Dulunya, ia pernah lama menemani suaminya yang kala itu bertugas sebagai Deputi Kepala Perwakilan/KUAI KBRI Den Haag (2005-2009). Kini, Wiwik meredam rasa di Amsterdam. Membawa inspirasi seni Indonesia untuk dunia. (P-1

Editor : Iwan Jaconiah

Related posts

Deru Pacuan Kuda dan Lukisan Men Sagan

Gogot Suharwoto : Literasi, Numerasi, dan Digitalisasi

DEN : Pemanfaatan AI Perkuat Hilirisasi