Deru Pacuan Kuda dan Lukisan Men Sagan

Pelukis Men Sagan di rumahnya, bilangan BSD City. (Postmodum/Iwan Jaconiah)

SIANG itu, ruang tamu sang maestro terasa seperti kapsul waktu yang menyenangkan. Di layar televisi kabel, kuda-kuda berpacu membelah debu lintasan, diiringi suara komentator yang sahut-menyahut cepat. 

Di depan sebuah layar itulah, Men Sagan duduk santai. Wajahnya terlihat begitu segar, jauh dari stereotip seniman tua yang lelah digerus zaman. Ia menyambut kedatangan kami bukan dengan arogansi seorang legenda. Melainkan dengan kehangatan yang membuat siapa saja merasa sedang pulang ke rumah opa sendiri. Sangat santun, ramah, dan bersahabat. 

Di atas meja kayu, obrolan kami ditemani kepulan asap kopi hitam, segarnya es teh, biskuit, dan legitnya potongan kue pisang. Sesekali matanya tak lepas dari layar televisi. Namun, tontonan pacuan kuda itu ternyata bukan sekadar hiburan pengisi waktu luang. 

“Sekarang saya memiliki kebiasaan nonton pacuan kuda di televisi. Senang melihat kuda-kuda yang kekar, kuat, dan jago saat berpacu di lintasan balapan,” ujarnya di bilangan BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (28/8/2026). 

Di sela-sela seruputan kopinya, seniman kelahiran Yogyakarta, 12 Oktober 1948, itu mulai berkerut meraih sebuah album lawas. Sejurus, ia lalu menyodorkan selembar foto hitam-putih yang ujungnya mulai menguning. 

Pelukis Men Sagan. (Postmodum)

Di dalam foto itu, tampak sosok Hermen Suprapto, nama asli Men Sagan kecil—usianya sekitar tujuh tahun—sedang tertawa lepas menunggangi kuda bersama bocah-bocah sebayanya di kota kelahirannya. 

“Kuda-kuda di televisi itu selalu membuat saya rindu,” gumamnya pelan. Ingatan pada derap langkah kuda rupanya menjadi jembatan nostalgia yang selalu berhasil menariknya pulang pada kenangan masa kecil yang bebas, lepas, dan bersahaja di Kota Gudeg.

Dari kebebasan dan kesederhanaan masa kecil itulah, kepekaannya pada kehidupan bermula. Di panggung seni rupa, Men Sagan ialah nama yang tak bisa dipisahkan dari napas realisme sosial

Di lain sisi, ia juga mendirikan Ramayana Ballet Sagan, sebuah kelompok tari yang pernah eksis menyajikan pementasan bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. 

Titisan Maestro Affandi

Sebagai denyut realisme sosial di Tanah Air, karya-karya Men Sagan bukan sekadar lukisan yang indah dipandang. Melainkan rekaman jujur tentang keringat, tangis, dan denyut nadi masyarakat kelas bawah. 

Bagi generasi muda yang hari ini terbiasa dengan estetika filter digital, karya-karya Men Sagan ialah tamparan realita yang autentik dan tanpa kompromi. Ia melukis kenyataan sosial yang keras, namun dengan empati yang begitu dalam. 

Sambil kembali menyeruput seduhan kopinya, Men Sagan bergegas sejenak masuk ke kamar lainnya. Perlahan ia mulai membongkar laci kenangan. Ia mengeluarkan foto album kusam di mana ia berdua bersama Affandi Koesoema (1907 – 1990). 

Matanya menerawang saat mengisahkan memori perjumpaannya dengan sang mentor. Ada pendar kekaguman sekaligus nostalgia murni saat ia mengingat masa-masa di mana para perupa besar saling berinteraksi, berdebat, dan saling membentuk visi artistik satu sama lain.

Santai dengan latar belakang kanvas kosong. (Postmodum)

Menariknya, jalan pedangnya sebagai pelukis tak lepas dari sebuah perjumpaan epik pada tahun 1970. Sambil kembali mengunyah kue, mata Men Sagan menerawang menceritakan momen saat ia nekat menyusul pelukis maestro, Affandi, hingga ke Bali. Pertemuan di Pulau Dewata itulah yang menjadi titik balik hidupnya. 

“Saat jumpa di Bali, Affandi menyuruh saya untuk datang kembali keesokan harinya. Besoknya, saya pun datang. Affandi sudah menyiapkan kanvas kosong di rumahnya. Di situlah, saya melihat secara langsung ia melukis, dan saya pun ikutan coret-coret,” kenangnya. 

Di hadapan Affandi, Men Sagan yang kala itu berusia 22 tahun, merasa seolah “ditahbiskan” secara batin untuk menceburkan diri seutuhnya ke dunia seni lukis. Ia menyerap energi luar biasa dari sang maestro dan mulai melukis dengan mengikuti corak ekspresif gurunya tersebut. Meski demikian, dengan kerendahan hati yang tulus, ia selalu mengakui bahwa sapuan kuasnya tak pernah sesempurna karya sang empu. 

Bersama Lim Wasim 

Seiring berjalannya waktu, Men Sagan tetap berhasil memancangkan tonggak sejarahnya sendiri. Ingatannya kemudian meluncur mulus ke tahun 2002, sebuah momen kebanggaan ketika ia menggelar pameran bersejarah bersama Lim Wasim, seniman legendaris yang juga pernah menjadi pelukis istana kepresidenan. 

Pameran bertajuk “Bersatu dalam Pameran Akbar” itu bukan sekadar perhelatan memajang kanvas. Melainkan simbol persahabatan dua seniman besar dalam merayakan visi kemanusiaan. “Dua tahun setelah pameran itu, saya dapat kabar bahwa Lim Wasim meninggal. Sedih saat itu sebab dia pelukis istana yang dekat dengan saya,” papar Men Sagan. 

Matahari sore perlahan turun. Menyisakan embun di gelas kopi dan piring kue pisang yang telah kosong. Menatap sosok Men Sagan yang kembali fokus pada layar televisi, rasanya kita belajar satu hal penting. 

Membicarakan Men Sagan berarti menengok sebuah ketulusan di jalur realisme dan ekspresionisme!

Menjadi seniman besar tak melulu soal memamerkan ego yang meledak-ledak di galeri mentereng. Kebesaran sejati ada pada keberanian merekam realitas paling keras, sambil tetap merawat kenangan masa kecil, dan menyambut dunia dengan secangkir kopi serta senyum yang membumi. 

Tak dinyana, membicarakan Men Sagan berarti menengok sebuah ketulusan di jalur realisme dan ekspresionisme. Sebagai seniman, ia tak sekadar memindahkan bentuk ke dalam lukisan. Namun, ia menaruh hati dan kepeduliannya di sana. 

Ia melukis apa adanya. Menangkap keindahan tradisi yang sering terlewatkan. Bagi Men Sagan, merawat tradisi lewat karya ialah bahasa paling jujur untuk mencintai Indonesia! (P-2)

Related posts

Gogot Suharwoto : Literasi, Numerasi, dan Digitalisasi

DEN : Pemanfaatan AI Perkuat Hilirisasi

Bahasa dan Identitas Bangsa