REPUBLIK ini sedang menghadapi pergeseran ekonomi besar. Beralih dari ekspor bijih mentah menuju pengolahan hilir bernilai tinggi atau hilirisasi.
Sebagai pemasok logam baterai global yang penting, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, bersama dengan sumber daya tembaga dan bauksit yang substansial.
Tidak lagi berhenti di urusan tambang dan hilirisasi nikel, Indonesia kini mulai melirik potensi raksasa yang ada di tanah rawa dan perkebunan. Sektor pertanian hingga sumber daya hayati pun ikut naik kelas lewat sentuhan hilirisasi.
Menariknya, gelombang transformasi ini dibidani oleh kecanggihan teknologi. Pemanfaatan AI dan digitalisasi disatukan dalam satu ekosistem data nasional. Hasilnya, pengambilan keputusan dan kebijakan negara bisa bergerak lebih gesit, presisi, dan tepat sasaran.
Begitulah benang merah yang disarikan lewat pemaparan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, dalam Seminar Internasional bertajuk Intelligent Manufacturing and Sustainability in Minerals Industries di Gedung Widya Graha, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta Selatan, Kamis (30/7).
Seminar “Intelligent Manufacturing and Sustainability in Minerals Industries” di Jakarta. (Postmodum)
Hadir dalam seminar sehari tersebut, antara lain Wakil Presiden Northeastern University, China, Xu Wei dan Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Nunung Nuryartono, serta ratusan periset lainnya dengan pelbagai latar belakang pendidikan.
Dalam pemaparannya, Luhut terkesima dengan perkembangan AI yang disajikan dalam sesi seminar. Itu terjadi saat Xu Wei mempresentasikan tentang kemajuan riset di Negeri Tirai Bambu dalam mengoptimalkan AI di sektor industri skala makro.
“Saya setuju dengan Prof Xu Wei yang mana teknologi AI telah menjadi penting dalam perekonomian,” ucap Luhut, sembari diamini oleh Xu Wei yang duduk di deretan meja bundar di barisan depan.
Dia optimistis hilirisasi merupakan strategi utama dalam memperkuat struktur ekonomi di Tanah Air. Apalagi, sumber daya alam Indonesia begitu melimpah ruah. Sayangnya, selama bertahun-tahun belum dioptimalkan untuk mendatangkan nilai tambah bagi kesehatan rakyat.
Penyebabnya, sebagian besar komoditas masih diekspor ke luar negeri sebagai bahan mentah. “Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat besar. Perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya sangat mendukung riset untuk kemajuan ke depannya,” ungkap Luhut.
Saat ini, pemerintah terus mendorong hilirisasi mineral kritis, seperti nikel. Begitu pula, pada sektor pertanian dan sumber daya hayati lainnya yang juga sangat diperlukan.
Transformasi tersebut terus didukung lewat pemanfaatan teknologi digital dan AI agar pembangunan ekosistem data nasional yang terintegrasi sedapatnya menghasilkan kebijakan yang lebih cepat dan akurat.
“Untuk pertama kalinya sejak kemerdekaan, kita mulai membangun ekosistem data nasional yang terintegrasi. Dengan dukungan AI, pemerintah dapat memperoleh rekomendasi kebijakan yang lebih cepat dan akurat berdasarkan data yang tersedia,” tegas Luhut.
Pentingnya kolaborasi riset
Melihat kehadiran perwakilan China di seminar tersebut, mantan Duta Besar RI untuk Singapura (1999–2000) itu, menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam mempercepat penguasaan teknologi.
Sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (2019–2024) dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (2015–2016) di era Presiden Joko Widodo, Luhut optimistis kerjasama teknologi ke depannya sangat diperlukan.
“Kerja sama antara Indonesia dan China perlu diperkuat melalui penelitian bersama, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan penciptaan teknologi yang memberikan manfaat bagi kedua negara,” tandas Luhut.
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan bersama para pembicara. (Postmodum)
Di tempat yang sama, Xu Wei mengatakan AI menjadi teknologi kunci dalam transformasi industri material dan manufaktur. Namun, tetap diposisikan sebagai alat yang mendukung manusia, bukan menggantikannya.
Sebagai contoh, melalui algoritma AI, Xu Wei mengakui AI dapat digunakan untuk memantau suhu tungku, reaksi pelindian kimia, dan keausan peralatan secara real-time. AI pun mampu meminimalkan waktu henti yang tidak direncanakan dan mengoptimalkan konsumsi aditif kimia selama ekstraksi mineral.
“Saya pikir manusialah yang harus mengendalikan keadaan. Kita menggunakan AI sebagai alat, bukan sebaliknya. Bukan AI yang mendominasi manusia,” ujar Xu Wei sembari menunjukkan jemarinya ke layar materi presentasi.
Tak dinyana, AI industri memiliki karakteristik berbeda dengan AI generatif karena dirancang khusus untuk mengoptimalkan proses manufaktur, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendukung pengambilan keputusan secara real-time.
Teknologi tersebut telah diterapkan pada pertambangan cerdas, metalurgi digital, dan sistem manufaktur otomatis di China sehingga mampu meningkatkan produktivitas, keselamatan kerja, dan efisiensi energi.
“Kami berfokus memberdayakan ilmuwan dengan menggunakan AI di universitas. Hasil riset diberikan langsung ke tim Presiden Xi Jinping. Ilmu pengetahuan terus berkembang mengikuti perubahan ekonomi global,” tandas Xu Wei.
Melalui seminar Intelligent Manufacturing and Sustainability in Minerals Industries, DEN, BRIN, dan pihak perguruan tinggi China terus mendorong penguatan riset, pemanfaatan AI, dan kolaborasi lintas negara.
Hal tersebut dinilai penting guna mempercepat transformasi industri mineral nasional menuju industri yang lebih cerdas, bernilai tambah, dan berkelanjutan. (P-1)
Editor : Iwan Jaconiah