GERIMIS serupa patahan jarum-jarum yang jatuh dari langit Moskwa, Rusia, pagi itu. Menancapi rerumputan yang belum sepenuhnya menua. Di bulevar yang ramai pejalan kaki, satu per satu daun maple luruh perlahan sudah.
Di antara kepulan napas di balik syal, ada bunyi trem membelah senyap dan daun lipa juga ikut berganti warna keemasan. Musim gugur membuat Moskwa terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Pukul 09.30 waktu setempat, dari depan pintu kayu berdebu, Jose Antonio Morato Tavares, Duta Besar Republik Indonesia untuk Rusia merangkap Belarus, melangkah masuk ke ruang kerjanya di jalan Novokuznetskaya 12, Moskwa. “Selamat pagi, sebentar ya,” sapanya, ramah.
Senyum simpul dengan ekspresi berwibawa. Memberikan pesan seorang diplomat ulung. Peranan sejatinya dalam menjaga hubungan baik antara Indonesia-Rusia laik diacungi jempol. Jose Tavares mengetahui berbagai kondisi mutakhir hubungan bilateral sehingga Presiden Prabowo Subianto menaruh kepercayaan penuh baginya di Negeri Pushkin.
Kiprah pria kelahiran Balibo, 16 September 1960, itu sangat cemerlang. Namun, selama dia bertugas lebih kurang empat tahun di negeri empat musim, itu, cuaca dingin menjadi tantangan tersendiri. Terkadang, mudah terkena flu atau batuk. Oleh karena itu, konsumsi vitamin dan buah-buahan wajib dan perlu.
Sebagai diplomat kawakan, Jose Tavares optimistis diplomasi budaya dan bahasa menjadi ujung tombak bagi Republik ini. Kekayaan dan keberagaman adat-istiadat telah menjadikan Indonesia sebagai negeri primadona di mata masyarakat Rusia.
Tak ayal, untuk terus ikut membumikan Bahasa Indonesia di panggung dunia, Jose Tavares siap menyukseskan Kongres Bahasa Indonesia ke-2 di Higher School of Economics (HSE) University, Moskwa, pada Rabu, 28 Oktober 2026 mendatang.
“Bahasa Indonesia sudah diajarkan secara luas oleh masyarakat di sini sejak 1950-an. Sudah diajarkan di universitas-universitas ternama sejak dulu, baik di Moskwa maupun Saint Petersburg, sehingga terus mengalami kemajuan,” ujar Jose Tavares di ruang kerjanya.

Diplomat Jose Tavares di Moskwa, Rusia. (Postmodum)
Guna mendukung pembelajaran, selain di Moskwa, ada juga program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang dilakukan di sejumlah kota-kota seperti di Rusia, antara lain Tomsk, Kazan, dan Saint Petersburg, serta di Belarus, yaitu Minsk.
“Saya memperkirahan sudah ada lebih dari 1000 penutur Bahasa Indonesia di Rusia. Generasi era 50-an sekarang sudah tua-tua, sedangkan yang muda-muda kini semakin banyak yang berminat. Mereka sangat menyukai budaya dan bahasa kita,” paparnya, sumringah.
Atas dasar tingginya minat masyarakat setempat terhadap Bahasa Indonesia di Rusia, maka Jose Tavares menginisiasi Kongres Bahasa Indonesia ke-1 pada November 2025 lalu. Melihat kesuksesan kongres tersebut maka acara dilanjutkan kembali pada tahun ini.
“Para pembicara kali ini terdiri dari pakar-pakar, baik yang ada di Rusia maupun Indonesia. Kongres tahun ini bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda sehingga saya kira sangat penting untuk dilaksanakan bersamaan karena dulu para pemuda mengikrarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,” jelas suami tercinta dari Fitria Wibowo, itu.
Pada Kongres Bahasa Indonesia ke-2 ini, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Prof. Atip Latipulhayat akan hadir sebagai pemberi kata sambutan. Para pembicara dalam kongres ini, yaitu Suharti (Sekjen Kemendikdasmen), Aleksey Drugov (Institute of Oriental Studies), Svetlana Banit (Saint Petersburg State University), dan Victor Pogadaev (Diplomacy Academy).
Lalu, ada juga Alena Ignatovich (BSUFL, Belarus), Rumah Rusia (Jakarta), Hafidz Muksin (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), Victor Sumsky (MGIMO University), Marina Frolova (Institut Asia Afrika, MSU), Anton Sapronov (MGIMO University), Ramil Yuzmuhametov (Kazan Federal University), dan Polina Evsyukova (HSE University).
Jejak Soekarno
Keberadaan Bahasa Indonesia tak lepas dari pembentukan resmi hubungan diplomatik pada Februari 1950 dan kunjungan bersejarah Presiden Soekarno ke Moskwa pada 1956. Hal itu memicu perkembangan pesat yang luar biasa dalam studi tentang Indonesia (Indonesistika) di Uni Soviet.
Melihat perkembangan antara hubungan Indonesia-Rusia di era Soekarno, maka ada lima hal penting yang dapat dilihat secara lebih komprehensif. Hal ini telah menjadi telaah dalam berbagai kajian Ilmu Sejarah dan Budaya dalam satu dasawarsa terakhir.
Pertama, Institusi Akademik & Yayasan: Selama dekade pertama ini, Uni Soviet memprioritaskan studi sistematis mengenai bahasa-bahasa di Asia Tenggara untuk mendukung inisiatif diplomatik anti-kolonial dan diplomasi terhadap negara-negara Dunia Ketiga.
Kedua, Pusat Kelembagaan: Departemen bahasa dan sastra Indonesia didirikan di berbagai institusi terkemuka Soviet. Terutama, di ISAA (Institut Studi Asia dan Afrika) – Universitas Negeri Moskwa (MGU); MGIMO (Institut Hubungan Internasional Negeri Moskwa); Universitas Negeri Leningrad (sekarang Universitas Negeri Saint Petersburg); serta Institut Ketimuran di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Soviet.
Ketiga, Kamus & Buku Teks: Para ahli bahasa Soviet menyusun karya referensi yang inovatif. Termasuk, kamus Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia yang komprehensif, buku panduan tata bahasa, serta buku teks yang menetapkan standar tinggi bagi linguistik deskriptif.
Salah satu buku lawas yang digunakan saat itu, yaitu Buku Peladjaran Pertjakapan Indonesia-Rusia yang disusun oleh L I Ushakova dan E S Belkina dengan redaktur Intojo. Diterbitkan oleh Badan Nasional Penerbit Kamus Asing dan Negara, Moskwa, 1969.
Keempat, Pertukaran Budaya & Sastra: Karya sastra Indonesia yang menonjol. Khususnya, karya anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) serta penulis seperti Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, dan Riva’i Apin, diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan dicetak dalam jumlah besar untuk disebarluaskan di seluruh blok Soviet.
Kelima, Mahasiswa Indonesia di Uni Soviet: Ratusan mahasiswa Indonesia pergi ke Uni Soviet melalui skema beasiswa negara (dikenal sebagai “Mahasiswa Mahid”) untuk menempuh pendidikan di bidang teknik, kedokteran, hubungan internasional, dan seni, yang menciptakan ekosistem dwibahasa yang aktif di Moskwa dan Leningrad.
Pada Era Orde Baru (1965–1998), menjadi stagnasi dan pelestarian akademis. Transisi politik tahun 1965 di Indonesia dan sikap anti-komunis yang diusung di bawah pemerintahan Presiden Soeharto menyebabkan pertukaran politik dan budaya di tingkat negara terhenti hampir sepenuhnya.
Meski hubungan politik resmi membeku, universitas-universitas di Rusia tetap mempertahankan departemen Bahasa Indonesia mereka. Para akademisi mengalihkan fokus dari politik kontemporer ke sastra Melayu klasik, tata bahasa deskriptif, leksikografi, serta sejarah kawasan masa lampau (seperti era Majapahit dan Sriwijaya).
Sejumlah besar pelajar dan intelektual Indonesia yang terjebak di Moskwa setelah tahun 1965 tetap tinggal di Uni Soviet dan dikenal luas sebagai “Eksil”. Beberapa di antaranya menjadi pengajar bahasa, penerjemah, dan asisten peneliti di berbagai universitas serta lembaga penyiaran Soviet (seperti layanan Bahasa Indonesia di Radio Moskwa). Hal ini menjaga agar penggunaan Bahasa Indonesia yang autentik tetap hidup di dalam lingkungan akademis Rusia.
Kontemporer
Seiring runtuhnya Uni Soviet pada 1991 dan berakhirnya Orde Baru pada 1998 di Indonesia, hubungan bilateral mulai dibangun kembali secara bertahap. Lanskap pendidikan modern yang ada di program universitas, membuat Bahasa Indonesia terus diajarkan sebagai spesialisasi utama atau bahasa asing kedua.
Di MGU (ISAA), berfokus pada filologi, sastra, dan linguistik. Di MGIMO – berfokus pada bahasa diplomatik, hubungan internasional, dan perdagangan. Di SPbSU (Saint Petersburg) – berfokus pada sejarah Asia Tenggara dan teks-teks klasik; serta HSE University dan RUDN (Peoples’ Friendship University of Russia) berfokus pada studi mutakhir.

Prof. Khoirul Rosyadi. (Postmodum)
Pendirian ASEAN Centre di MGIMO pada tahun 2010, menjadi penggerak utama dalam mempromosikan pendidikan Bahasa Indonesia, diskusi meja bundar, dan berbagai kegiatan budaya di Rusia.
Sementara itu, di era kontemporer, Festival Indonesia di Moskwa yang diselenggarakan oleh KBRI pada 2016-2020 menarik ratusan ribu pengunjung. Kegiatan itu menghadirkan lokakarya bahasa, seni tradisional, dan kuliner.
Keterbukaan budaya kian membumi saat digelar Wonderful Indonesia: Unity in Diversity dalam rangkaian Theatre Boulevard Festival 2026 di Chistoprudny Boulevard. Hal tersebut membuktikan bahwa budaya dan Bahasa Indonesia kian membumi di Rusia.
Kini, melalui kehadiran Rumah Nusantara yang berada di kompleks KBRI Moskwa, ada upaya untuk terus menduniakan Bahasa Indonesia. Berbagai kegiatan, antara lain kelas Bahasa Indonesia untuk orang asing, Kelas bahasa Rusia untuk orang Indonesia, kelas seni tari, dan kelas diskusi buku.
“Program-program terkait pendidikan dan kebudayaan terus dilakukan di Rumah Nusantara secara berskala. Hal ini penting untuk mendukung keberadaan seni dan budaya Indonesia di Rusia,” tambah Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Moskwa, Prof. Khoirul Rosyadi.
Melalui Kongres Bahasa Indonesia ke-2 di Rusia kian membuktikan komitmen Jose Tavares dalam membumikan terus Bahasa Indonesia di Negeri Puskin. Ia paham betul tentang diplomasi lembut demi menjaga hubungan akrab antara Moskwa-Jakarta. (P-1)
Editor : Iwan Jaconiah













