RONA jingga di lengkung langit Jakarta masih malu-malu menampakkan diri saat orang-orang silih berganti melangkahkan kaki memasuki kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di Senayan, sore itu.
Senja belum tuntas mengganti tudungnya dengan pekat malam. Di dalam ruang tunggu, riuhnya hiruk-pikuk Ibu Kota seolah teredam. Secangkir kopi hangat, sepiring kudapan ringan, dan embusan sejuk penyejuk ruangan menjadi teman setia dalam sebuah penantian.
Tak selang berapa lama, suasana santai itu seketika memusat pada satu titik ketika sosok yang ditunggu akhirnya muncul. Gogot Suharwoto melangkah masuk membawa energi baru—tidak ada guratan lelah. Yang ada hanyalah seulas senyum riang berpadu apik dengan pendar kewibawaannya.
Sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal – Kemendikdasmen, sosok Gogot sangat strategis dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan yang diamanatkan dalam Asta Cita kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Sebagaimana dalam hal pendidikan bermutu bagi generasi muda penerus bangsa di Indonesia, sejatinya diperlukan dukungan nyata negara bagi sekolah-sekolah yang bergerak maju ke depan. Hal tersebut berguna agar sistem pendidikan berkualitas tetap terjaga.
“Saya kira, memberikan pembelajaran literasi, numerasi, dan digitalisasi bagi anak didik sangat perlu. Bagi sekolah yang mutu pendidikannya bergerak maju, itu mudah sekali didukung. Namun, untuk sekolah yang bergerak lamban, itu menjadi tantangan dan tanggung jawab tersendiri,” tutur Gogot di ruang kerjanya, Kamis (20/8/2026).
Peraih gelar Doktor (S3) dari Oregon State University, Amerika Serikat, itu menjelaskan pemberian porsi kinerja bagi sekolah, baik di daerah maupun di pusat, untuk menatar (upgrade) kualitas pembelajaran, sangatlah penting sekali. Untuk itu, perlu ditopang oleh fasilitator daerah (fasda) dan fasilitator nasional (fasnas).
Fasda ialah guru, pengawas, atau tenaga kependidikan pilihan yang dilatih untuk menjadi pendamping serta pelatih bagi satuan pendidikan di daerahnya. Sedangkan fasnas ialah tenaga penggerak, pelatih, atau narasumber utama yang telah lulus pelatihan khusus untuk mendampingi transformasi mutu pendidikan. Mereka (fasnas) bertugas melatih fasda, kepala sekolah, dan guru di berbagai wilayah.
“Fasda dipersiapkan di kabupaten/kota, sedangkan fasnas di direktorat untuk tingkat nasional. Fasilitator atau tenaga pendidik disiapkan untuk memberikan pelatihan kepada anak didik sesuai dengan tugas dan fungsi,” papar Gogot.
Skema yang akan diterapkan melalui pembelajaran literasi dan numerasi, yaitu setiap fasda dan fasnas harus memiliki pelatih-pelatih yang dipilih sesuai kualitas dan kriteria. Tenaga pendidik harus mengajarkan materi-materi secara bermutu.
“Materi yang diberikan oleh para pendidik di masing-masing sekolah tidak hanya membaca buku saja. Namun, anak didik diharapkan mampu menerjemahkan dan mengaplikasikan apa yang mereka baca ke dalam kehidupan sehari-hari. Itu refleksi dari sikap, perilaku, dan karakter,” tandas Gogot seraya meneguk segelas air mineral.
Mengenai tantangan ke depannya, dia mengakui masih perlunya melakukan pendampingan dan pamantauan terhadap sekolah-sekolah yang menjalankan program literasi dan numerasi di berbagai daerah, mulai dari Sabang sampai Merauke. Untuk itu, pengawas di lapangan akan dioptimalkan agar program terus bergerak.
“Saya melihat literasi dan numerasi perlu dipacu lagi kepada sekolah-sekolah agar terus bergerak masif, terstruktur, dan cepat. Kami butuh akselerasi sebagaimana Presiden Prabowo menyebutnya sebagai digitalisasi pembelajaran.”
Melalui digitalisasi pembelajaran, Indonesia akan mengejar ketertinggalan. Dengan begitu, indeks prestasi siswa dapat terangkat. Contoh akselesari, yaitu dengan pembagian buku ke sekolah-sekolah yang dilakukan Menteri Kemendikdasmen Abdul Mu’ti di Kudus, beberapa waktu lalu.

Gogot Suharwoto, S.Pd., M.Ed., Ph.D. (Postmodum)
Tak dimungkiri, Indonesia akan menghadapi Program International Science and Assessment (PISA) pada 2028 mendatang. Ada kegiatan literasi, numerasi, dan reading. Salah satu hal penting dalam PISA, yaitu konsep teknologi dan rekayasa yang relevan dengan capaian sains telah diintegrasikan ke dalam praktik sains dan rekayasa.
“Kita harus backup penuh (PISA) karena jika literasi siswa rendah maka soal-soal yang muncul akan sulit dijawab. Kita perkuat literasi dan numerasi. Sama seperti jika reading-nya rendah, maka matematika-nya pun rendah,” jelas Gogot yang juga peraih Magister (S2) Pendidikan Matematika di State University of New York, itu.
Kini, dunia pendidikan di Indonesia diperhadapkan pada kualitas dan kuantitas. Semua saling beriringan dan tidak dapat mengesampingkan yang lain. Dukungan fasda dan fasnas menjadi tonggak demi membawa Indonesia menuju ke arah yang jaya.
Penguatan bahasa asing
Penguasaan bahasa asing oleh siswa sejak usia dini sangat wajib dan penting. Apalagi, penguasaan bahasa asing dapat membantu siswa untuk menyelesaikan soal-soal rumit, seperti matematika jika disajikan dalam bahasa Inggris.
“Dari hasil riset, ditemukan bahwa anak-anak dengan pemahaman multiple languages lebih mudah memahami soal-soal yang disajikan dibandingkan anak-anak yang tidak memahami multiple languages. Yang paham bahasa asing akan lebih bisa memahami makna dan ide dari dua sisi dalam kalimat (soal) sehingga mudah dipecahkan,” ungkap Gogot.
Untuk bahasa asing di tingkat SD, Gogot menilai perlu diperkuat terus agar anak-anak dapat memiliki kualitas pendidikan bertaraf internasional. Begitu pula, melalui PAUD, wajib belajar 13 tahun telah diterapkan. Satu tahun pertama pra-SD, yaitu bagian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Melalui Sekolah Nasional Terintegrasi, semua calon pemimpin akan lahir dari seluruh daerah di Tanah Air.
Sebagaimana diketahui, SDGs ialah agenda global dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berisi 17 tujuan bersama untuk mengakhiri kemiskinan, menjaga bumi, dan meningkatkan kesejahteraan hingga tahun 2030. “SDGs selama ini sudah ada melalui Program Indonesia Pintar, namun hanya untuk SD, SMP, dan SMA. Kini, kami berikan juga kepada PAUD.
Melalui program tersebut, tenaga pendidik PAUD memiliki kesempatan mendapatkan beasiswa untuk belajar ke jenjang S-1. Misalnya, melalui metode Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). “Banyak pendidik PAUD yang belum sarjana. Kami fasilitas agar mereka yang belum mendapatkan gelar untuk ikut kuliah,” papar Gogot, bersemangat.
Pembelajaran utama guru PAUD, yaitu konseling (kepekaan) untuk mendeteksi secara dini karakter, sifat, dan potensi anak sejak usia dini. Guru-guru PAUD diajarkan untuk mampu melihat anak-anak yang memiliki bakat khusus agar bisa dilakukan pendampingan secara tepat.
“Guru-guru diarahkan untuk memperhatikan kualitas anak, mulai dari pendidikan, pengasuhan, gizi, pelindungan, dan kesehatan,” sambung Atase Pendidikan, Kedutaan Besar Indonesia di Korea Selatan (2021-2024), itu.
Melalui pendidikan, Gogot optimistis semua hal yang telah diamanatkan lewat undang-undang wajib untuk diimplementasikan. Contohnya, Sekolah Rakyat. Hal itu seiring dengan tujuan untuk menjaga pemerataan mutu sehingga hadirlah Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT).
SNT sendiri ialah sekolah bermutu yang hadir di daerah. Bertujuan untuk memberi kesempatan lebih setara bagi anak-anak Indonesia agar dapat belajar, tumbuh, mengembangkan minat dan bakat, serta meraih masa depan yang lebih baik di tempat mereka berasal dan tinggal.
“Semua calon pemimpin akan lahir dari seluruh daerah di Tanah Air. Ini program masif yang bagus sehingga diharapkan dapat menjadi solusi bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Kami ingin agar sekolah-sekolah terbaik ada bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga tidak kalah saing dengan sekolah internasional,” aku Gogot.
Di luar matahari perlahan luruh di antara gedung-gedung pencakar langit. Pria berkacamata dan berbaju batik itu pun melangkah pergi. Dia sudah memiliki agenda rapat lainnya yang wajib untuk dihadirinya.
Salah satunya, yaitu memantau perkembangan pemberian bantuan yang dilakukan Kemendikdasmen bagi sekolah-sekolah yang rusak akibat dampak gempa bumi magnitude (M) 7.7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026.
Bantuan yang sudah tiba di lokasi bencana, antara lain tenda darurat, school kit, dan family kit. Hal itu dilakukan agar kegiatan pendidikan darurat tetap berjalan. “Tim sudah turun ke NTT untuk memberikan bantuan. Kegiatan dan aktivitas dipastikan berjalan agar anak-anak tetap semangat belajar demi masa depan,” pungkasnya.
Sebagai matematikawan sejati dan berdedikasi tinggi dalam ranah pendidikan, segala program yang dijalankan Gogot bersama Kemendikdasmen harus terukur, terencana, dan tepat sasaran. Semuanya demi memperkuat literasi, numerasi, dan digitalisasi di Republik ini. (P-1)
Editor : Iwan Jaconiah












