Postmodum

Kulturologi Indonesia

Kongres Penulis Dunia di Rusia Dukung Perdamaian

KEKUATAN bahasa dan sastra bukan sekadar tercermin dalam karya, baik puisi, cerita pendek, maupun novel. Namun, ia perlu menjadi alat untuk menyatukan budaya dunia yang heterogen sekaligus berfungsi sebagai jembatan komunikasi antar bangsa.

Hal tersebut terkuak pada helatan World Peoples Assembly (Majelis Rakyat Dunia) yang berlangsung di Moskwa, Rusia, pada 17-19 September 2026. Acara tahunan Majelis Rakyat Dunia kali ini menghadirkan berbagai kegiatan. Mulai dari kongres sastra, pertunjukan puisi dan lukisan massal Malaikat Perdamaian, diskusi tentang warisan linguistik, hingga proyek penerjemahan cerita rakyat.

Acara ini mengusung tema Dunia Baru: Nilai-Nilai yang Mempersatukan. Menariknya, Majelis Rakyat Dunia menghadirkan kegiatan III Congress of the World Organization of Writers (WOW) atau Kongres Penulis WOW ke-3. Kongres ini telah menjadi program khusus. Kongres Penulis WOW ke-1 digelar di Abuja, Nigeria, pada 4-6 April 2024 dan Kongres Penulis WOW ke-2 digelar di Moskwa, pada 20-21 September 2025.

Kongres itu digelar sebagai bagian dari kegiatan mengumpulkan para penulis dari 60 negara, termasuk Indonesia. Mereka berkumpul, berbincang, dan membahas peran komunitas penulis, seni penerjemahan, pameran buku, dukungan untuk talenta muda, dan dampak kecerdasan buatan (AI) pada sastra.

Pada Jumat (18/9), sebuah acara puisi unik dilangsungkan sebagai bagian dari Kongres Penulis WOW. Bertujuan untuk mencetak rekor humanistik yang unik. Para penyair, penulis, tokoh budaya, dan delegasi dari berbagai negara secara bersamaan membacakan 366 puisi dalam bahasa Rusia. Puisi-puisi itu didedikasikan untuk citra malaikat dan perdamaian.

Perdamaian dunia 

Proyek Malaikan Perdamaian dimulai di Krasnoyarsk. Seniman Yulia Ivanova, yang menghadapi penyakit serius, mulai menggambar sosok-sosok malaikat di kertas dan kanvas. Hingga pada suatu hari, ia dinyatakan sembuh total oleh dokter. Selama 12 tahun, koleksi lukisan-lukisannya telah berkembang menjadi 366 karya.

Para penyair ikut menerjemahkan topik Malaikat Perdamaian lewat menulis puisi dengan cara menafsirkan karya-karya Yulia. Lalu, para pembaca puisi membawakan karya puisi di berbagai acara publik. Pada April 2026, penyair ternama Rusia Eldar Akhadov (66) menerbitkan buku antologi Puisi untuk Malaikat Perdamaian, yang ditulis khusus untuk proyek itu. Karya Eldar telah disumbangkan ke Perpustakaan Negara Rusia dinamai Lenin.

Serial lukisan “Malaikat Perdamaian” dipajang dalam World Peoples Assembly di Moskwa. (Postmodum)

President of WOW Margarita Al mengatakan pentingnya mengumpulkan para penulis dari berbagai negara untuk dapat bekerja sama, baik dalam penerjemahan, penulisan sastra, pelestarian menulis dongeng, maupun pertukaran budaya. “Para penyair dan penulis yang hadir kali ini menjadi bukti bahwa Penulis WOW terus berkembang dan berupaya untuk pertukaran budaya,” tuturnya sebagaimana dilaporkan Postmodum langsung dari Rusia.

Di sela-sela kegiatan tersebut, Margarita memberikan Penghargaan Sastra Dunia WOW 2026 kepada enam penulis dan penyair dari Rusia, Tiongkok, Nigeria, Kolombia, dan Tajikistan. Keenamnya ialah Vyacheslav Kupriyanov (penyair dan penerjemah Rusia), Wole Soyinka (peraih Nobel Nigeria 1986), dan dua penulis Kolombia: Fernando Rendon (pendiri dan direktur Festival Puisi Internasional di Medellin) serta Rubén Darío Flores Arcila (penerjemah, novelis, dan rektor Institut Leo Tolstoy di Bogotá).

Kemudian, Timur Zulfikarov (penulis, penyair, dan filsuf Tajikistan) dan Cao Shui (penyair Tiongkok). Penghargaan ini diberikan untuk karya-karya yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dan moral universal. Karya-karya enam penyair itu juga diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, Inggris, Spanyol, Tiongkok, dan Arab. “Semoga ke depannya, akan ada para penulis lainnya yang juga ikut memberikan sumbangsi dalam perdamaian,” papar Margarita, sumringah.

Di hari berikutnya, pada Sabtu (19/9), Majelis Rakyat Dunia menyelenggarakan sesi ahli bertajuk Warisan Linguistik sebagai Warisan Kemanusiaan: Nilai dan Ikatan Bersama. Topik ini mengupas tentang pelestarian kode bahasa, metode untuk mewariskan warisan kepada generasi mendatang, dan praktik revitalisasi bahasa. Perwakilan dari Rusia, Bolivia, India, Nepal, dan Haiti mempresentasikan proyek mereka.

Sementara itu, Universitas Linguistik Negeri Moskwa mempresentasikan proyek bertajuk Kotak Kebijaksanaan Rakyat. Mencakup terjemahan cerita rakyat dari bekas negara-negara Uni Soviet. Salah satu peserta dari India membacakan puisi dalam bahasa Rusia selama sesi tersebut, yang didedikasikan bagi “Yang Agung dan Yang Perkasa.”

Pemahaman tentang mentalitas mendalam berbagai bangsa melalui studi psikologi cerita rakyat dibahas dalam sesi yang membahas kode budaya, refleksi di media, dan diplomasi publik. Salah satu pembicara memberikan contoh dari dongeng Rusia dan Arab. Ivanushka si Bodoh dan Kakek dari dongeng Alexander Pushkin (1799 – 1837) melepaskan ikan tombak dan ikan mas ajaib yang mereka tangkap setelah berjanji untuk memenuhi keinginan mereka.

Sebaliknya, pahlawan dongeng Arab, Aladdin menyimpan lampu ajaib yang berisi jin dan melindunginya dari orang lain. Tidak hanya dalam cerita rakyat, tetapi juga dalam karya sastra klasik Rusia, sang pahlawan melepaskan hewan yang ditangkap, seperti yang dilakukan Ivanushka dengan kuda betina ajaib dalam dongeng Kuda Bungkuk Kecil karya Pyotr Pavlovich Yershov (1815 – 1869).

Sifat tidak tamak, kebaikan, dan kejujuran yang menjadi ciri khas pahlawan rakyat Rusia. Semua mengungkapkan lebih banyak tentang kode terdalam masyarakat Rusia daripada seratus studi sosio-psikologis terbaik. Hal ini sering ditekankan oleh Ibrahim Istanbuli (69), seorang penulis dan penerjemah dari Suriah yang memenangkan Penghargaan Sastra Internasional P. P Yershov ke-19 untuk terjemahannya atas dongeng Kuda Bungkuk Kecil ke dalam bahasa Arab.

Dunia yang terpecah 

Tak diayal, seni penerjemahan menjadi topik diskusi utama di Majelis Rakyat Dunia di berbagai tempat. Para ahli mencatat bahwa di dunia yang terpecah belah saat ini, penerjemahan seharusnya dipandang bukan hanya sebagai tugas teknis atau proses kreatif yang independen. Tetapi, sebagai alat yang efektif untuk membangun kepercayaan dan saling pengertian.

Lagipula, terkadang tidak ada yang tersisa di antara bangsa dan negara yang berperang, kecuali warisan sastra yang sama. Dan, setelah perdamaian terwujud, hanya kata-kata puitis yang dapat menyatukan kembali orang-orang. Melupakan dendam dan menatap hari esok yang cerah.

Kegiatan seorang panelis dan para peserta di World Peoples Assembly. (Postmodum)

Di tempat yang sama, Liu Wenfei, seorang filolog Tiongkok dan penerjemah karya Pushkin, menegaskan bahwa karya klasik Rusia menembus budaya Tiongkok bukan melalui adaptasi. Tetapi, melalui terjemahan berkualitas tinggi yang melestarikan semangat aslinya.

Di hampir setiap sesi acara, para peserta membahas bagaimana budaya dan sastra menjadi alat untuk dialog internasional dan membangun ruang kepercayaan antarmanusia. Para pembicara dalam pertemuan tersebut berulang kali mengutip landasan humanistik sastra Rusia sebagai pembawa pesan nilai-nilai cinta kasih terhadap kemanusiaan, welas asih, dan kemurnian spiritual.

Dalam pidatonya pada sesi panel yang didedikasikan untuk melestarikan ingatan sejarah dan kebenaran tentang Perang Dunia II, Ruslan Gagkuev, Ketua Dewan Masyarakat Sejarah Rusia (RIS) dan Direktur Eksekutif Yayasan Sejarah Tanah Air, mengingatkan kembali tentang Hadiah Perdamaian Internasional Leo Tolstoy, yang didirikan oleh RIS, Masyarakat Sejarah Militer Rusia, dan Yayasan Perdamaian Rusia.

Hadiah ini diberikan kepada sosok-sosok inspiratif atas prestasi dalam memperkuat perdamaian dan persahabatan, mencegah perang, dan melindungi hak asasi manusia dan kebebasan. “Pada tanggal 9 September, Hadiah tersebut telah diberikan kepada Presiden Vietnam To Lam. Hadiah ini terbuka untuk orang-orang dengan beragam pandangan ideologis, dan komposisi juri internasional mencerminkan spektrum pendapat yang paling luas,” tutur Gagkuev mengingatkan para panelis.

Pencantuman nama penulis humanis terkenal dunia Leo Tolstoy sebagai nama penghargaan internasional itu menunjukkan bahwa sastra dan bahasa tidak hanya mempersatukan bangsa-bangsa. Namun, membentuk masa depan di mana budaya menjadi fondasi praktik diplomasi global.

Lebih jauh lagi, para penulis memikul tanggung jawab khusus untuk menggunakan bakat kata-kata mereka dalam menciptakan visi positif tentang masa depan. Hal ini juga secara teratur disebutkan oleh para pembicara pada Sidang Umum Majelis Rakyat Dunia kali ini. (P-1)

Editor : Iwan Jaconiah