Art

Menjelajahi Dunia Resiyaman

PELUKIS Resiyaman di studionya. (Postmodum)

DI sudut sebuah studio yang dipenuhi percikan warna, pelukis kontemporer Resiyaman tampak berdiri di depan kanvas-kanvas besar yang seolah sedang berteriak. Tidak ada garis yang terlalu rapi, tidak ada batasan yang kaku. Yang ada hanyalah kejujuran visual yang mentah, ekspresif, dan sedikit nakal. 

Jika Anda melihat karyanya dan merasa ada kemiripan dengan energi seniman Eropa pasca-Perang Dunia II, Anda tidak salah. Resiyaman membawa semangat CoBrA (Copenhagen, Brussels, Amsterdam) ke dalam konteks kontemporer yang lebih personal dan relevan dengan masa kini.

“Awalnya saya melukis abstrak, namun keponakan bertanya ‘apa itu dan apa ini’ dengan sepenuh keingintahuannya. Dari situlah, saya melukis obyek yang baru sehingga lebih hidup. Kemudian saya melakukan riset dan baca berbagai literatur sehingga menemukan ada beberapa karya saya memilih kemiripan dengan Gerakan CoBrA,” ujar Resiyaman di Jakarta, pekan lalu. 

Gerakan CoBrA yang lahir di akhir era 1940-an dikenal karena penolakannya terhadap aturan akademik yang membosankan. Gerakan ini memuja spontanitas, warna-warna cerah, dan imajinasi kekanak-kanakan. Gerakan ini dimaknai kembali dengan aktivitas seni rupa terbarukan di Indonesia. 

Menanti Kekasih // We Were Here Together, 100 x 100 cm, Acrylic on Canvas, 2024. (Postmodum)

Dalam karya Resiyaman, elemen-elemen ini hadir kembali dengan wajah baru. Seperti para pendahulu CoBrA, Resiyaman tidak takut menciptakan figur-figur aneh yang tampak seperti monster lucu atau makhluk mitologi modern. Sapuan kuasnya tebal dan berani. Ia tidak hanya melukis, namun ia “menanamkan” emosi ke dalam setiap lapisan cat. 

Penggunaan warna kontras, seperti merah muda neon berdampingan dengan cokelat tanah, misalnya, menciptakan dialog visual yang dinamis dan tidak membosankan. Hal ini membuat karya Resiyaman lebih segar dipandang mata. 

Pendekatan Kontemporer

Meskipun dipengaruhi gerakan klasik, Resiyaman tidak terjebak dalam masa lalu. Ia membawa estetika ini ke ranah kontemporer dengan menyisipkan simbol-simbol keseharian dan kegelisahan manusia postmodern. 

Karyanya terasa sangat unik karena ia berhasil membuat seni rupa tinggi menjadi terasa dekat. Ia seolah berkata melalui kanvasnya: “Seni tidak harus selalu serius, yang penting ia jujur.”

Seeker, 100 x 100 cm, Acrylic on canvas, 2024. (Postmodum)

Melukis bagi Resiyaman bukan tentang teknis yang sempurna, melainkan tentang melepaskan kontrol dan membiarkan naluri yang memandu tangan di atas kanvas. 

Mengapa Karyanya Menarik Simpati?

Di dunia yang semakin teratur dan serba digital, goresan tangan Resiyaman yang bebas adalah sebuah pelarian. Melihat lukisannya seperti melihat sebuah pesta yang riuh di tengah keheningan. Ada kegembiraan, ada pemberontakan, dan yang paling penting, ada jiwa. 

Bagi penikmat seni muda, karya Resiyaman adalah jembatan yang sempurna untuk memahami bahwa sejarah seni—seperti CoBrA—bisa tetap terasa segar dan “keren” jika dibawakan dengan pendekatan yang berani dan autentik. 

Resiyaman melukis dengan caranya yang sangat unik. Ia membiarkan imajinasinya larut ke atas kanvas. Menariknya, setiap lukisan memiliki suatu ketertarikan dengan puisi. Bagi Resiyaman, ia merasa perlu untuk memvisualisasikan puisi ke atas kanvas. 

Night Songs // Finite of Night, 120 x 120 cm, Acrylic on canvas, 2023. (Postmodum)

Lewat perpaduan itulah, sebanyak 25 karya lukis bercorak abstrak dan abstrak ekspresionisme akan ditampilkan ke ruang publik lewat pameran tunggal Resiyaman bertajuk Seen and Unseen di Balai Budaya Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, pada 10-19 April 2026. 

“Bagi saya pameran Seen and Unseen adalah visualisasi puisi ke seni rupa. Ada lukisan, ada puisi. Saya mengerjakannya dengan energi positif dan semangat,” tutur lelaki berambut gondrong yang juga gemar dengan dunia kepenulisan sastra, itu. (P-1

Related posts

Resiyaman: Seen and Unseen

Lalu Presiden Lalu Seniman

Cahaya Wiwik Oratmangun dalam Pameran Woman’s Colorful Life