SUASANA di Panggung W.S Rendra, Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, sore itu, mendadak hening seketika Johan Tanan perlahan-lahan melangkah naik ke atas podium bebas.
Dalam balutan acara bertajuk Puisi Kagetan, sebuah ruang di mana kata-kata dan spontanitas beradu, Johan tidak hanya menyajikan bait-bait rima semata. Ia pun menghadirkan sebuah pidato kreatif yang memantik percakapan panjang tentang satu hal yang kian mendesak di era kontemporer.
Topiknya sangat memukau, yaitu tantangan merawat imajinasi di ruang kelas dan bagaimana sastra bisa menjadi jalan keluarnya. Fokus utama Johan menukik tajam pada dunia kreativitas di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Dalam pandangan Johan, masa peralihan remaja ini ialah fase paling krusial. Di usia tersebut, nalar kreatif siswa sering kali mulai berbenturan dengan sistem akademis yang kaku dan tuntutan standarisasi nilai.
Di atas panggung, penulis buku Kreativitas Remy Sylado: Menambang, Mengacak, dan Menata Ulang Kata-Warna-Bunyi (Pentas Grafika, Jakarta, 2025), itu lugas membedah betapa pentingnya memberikan ruang bagi siswa SMP dan SMA untuk berekspresi tanpa takut dihakimi oleh orang lain.
Menurut Johan, kreativitas bukanlah bakat eksklusif bagi segelintir anak seni, melainkan otot yang harus dilatih setiap hari melalui kebebasan berpikir, sastra, dan pemecahan masalah yang tidak linear.
Berakar dari keluarga
Dedikasi Johan di panggung-panggung literasi seperti yang disajikan dalam Puisi Kagetan, sesungguhnya berakar pada fondasi keluarga yang kuat. Kedisiplinan dan ketekunan menjadi faktor penting dalam perjalanan hidupnya.
Di deretan kursi penonton, tampak Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hafidz Muksin, bersama sejumlah penyair dan seniman, ikut menyimak.

Johan Tanan tampil memukau di Badan Bahasa, Jakarta. (Postmodum)
Johan menggeluti dunia pendidikan, khususnya dalam program entrepreneurship bagi sekolah-sekolah swasta di Jakarta. Dengan dukungan dan bimbingan sang ayah, Antonius Tanan, ia terus mengepakan sayapnya secara tekun, disiplin, dan rajin.
“Saya bersama ayah saya menekuni dunia entrepreneurship. Kami sering berkeliling untuk memberikan edukasi dan konsultasi kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan tenaga dan pikiran kami,” tutur Johan di atas panggung, Jumat (14/8/2026) lalu.
Menurutnya, entrepreneurship ialah proses dinamis dalam merancang, meluncurkan, dan menjalankan bisnis atau usaha baru sembari menanggung risiko finansial dan pribadi untuk menciptakan nilai.
Bagi komunitas pendidikan dan literasi di Jakarta dan sekitarnya, pasangan ayah dan anak ini ialah wajah yang tak lagi asing. Mereka pendukung setia yang secara konsisten selalu menyempatkan diri hadir dalam berbagai seminar, diskusi publik, dan inisiatif pendidikan kreatif.
Satu pandangan
Sinergi lintas generasi antara Johan dan Antonius ini membuktikan bahwa dukungan keluarga merupakan pilar paling mendasar dalam membangun ekosistem pendidikan yang memerdekakan.
Johan dan ayahnya sering hadir ke sekolah atau lembaga pendidikan sebagai konsultan pendidikan. Mereka bertindak sebagai katalisator perubahan. Kehadiran rutin mereka dari satu forum ke forum lain di kawasan Jabodetabek membawa pesan yang jernih. Bahwasanya, mendidik generasi yang kritis dan kreatif menuntut komitmen kolektif dari masyarakat. Bukan delegasi tugas kepada institusi sekolah semata.
Bagi Johan, panggung Puisi Kagetan bukan sekadar selebrasi bahasa. Itu sebuah manuver budaya. Melalui pendekatan kreatifnya, Johan berhasil mengubah mimbar sastra menjadi arena refleksi pendidikan yang menggugah. Itu mengingatkan kita bahwa menyemai kreativitas anak muda ialah investasi peradaban yang tak boleh diabaikan. (P-1)
Editor : Iwan Jaconiah













