Solo Punya Cerita 

Patung Loji Gandrung di Kota Solo. (Postmodum)

JALANAN masih basah usai diguyur hujan sekitar lima jam. Satu dua tetesan air nampak luruh perlahan dari reranting pepohonan di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, Jawa Tengah, sore itu. 

Para tukang becak sesekali lalu lalang melaju. Di sudut lampu merah, seorang pria usia baya mengayuh tanpa henti. Di bibirnya terselip sebatang kretek. “Becak, Mas,” ujar Sugiyono, ramah, mencoba menawarkan becak kepada wisatawan untuk berkeliling. 

Solo, nama resmi Surakarta, adalah kota yang sering berbisik daripada berteriak. Terletak di antara dua kota besar, Semarang dan Yogyakarta, kota ini menawarkan kontras yang memikat dengan modernitas yang ramai dari kota-kota tetangga yang lebih padat penduduknya. 

Di sini, udara dipenuhi dengan nostalgia yang lembut, laju kehidupan melambat menjadi ritme yang nyaman, dan kekayaan budaya Jawa berpadu dengan warisan abadi masa kolonialnya. 

Bagi para pelancong yang mencari pengalaman otentik yang kaya akan sejarah dan suasana yang sangat tenang, Solo dapat dijadikan sebagai destinasi yang mempesona. Tak heran, kota ini baru saja meraih The 5th ASEAN Clean Tourist City Award sebagai bentuk apresiasi atas komitmen menjaga kebersihan dan melestarikan kawasan wisata.

Penghargaan itu diberikan dalam acara ASEAN Tourism Forum (ATF) 2026 yang berlangsung di Cebu, Filipina, pada 27–31 Januari 2026. Rangkaian kegiatan diawali dengan The 63rd Meeting of the ASEAN National Tourism Organisations (NTOs) serta pertemuan pejabat senior bersama mitra dialog. 

Forum tersebut mencatat capaian implementasi ASEAN Tourism Strategic Plan (ATSP) 2016–2025, yang memperkuat posisi ASEAN sebagai kawasan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana hadir di ajang tersebut. 

Lewat keharuman Solo di ajang bergengsi tersebut, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, merasa terpukau. “Sangat bersyukur karena Kota Solo bisa mendapatkan apresiasi yang tinggi. Ini semua karena keterlibatan semua pihak, baik masyarakat, pelaku pariwisata, dan pemerintah,” paparnya. 

Warisan adiluhung

Penjelajahan Solo tidak akan lengkap tanpa mengunjungi istana-istana kerajaannya yang megah, jantung sejati warisan Jawa. Keraton Surakarta Hadiningrat, istana resmi Kesultanan Surakarta, ialah kompleks luas yang masih berfungsi sebagai kediaman Susuhunan saat ini. 

Pendopo (paviliun terbuka) yang megah dan museum-museumnya yang rumit menawarkan sekilas pandangan yang menarik tentang kehidupan kerajaan, tradisi, dan sejarah kerajaan yang mewah. Tak jauh dari situ terletak Istana Mangkunegaran, kerajaan elegan lainnya dengan pesona uniknya sendiri.

Suasana di Kota Solo saat senja tiba. (Postmodum)

Bangunan arsitektur yang menghiasi kota masih terpelihara dengan baik dan halaman-halaman yang tenang memberikan pengalaman yang lebih intim, seringkali menjadi tempat pertunjukan tari dan musik tradisional.

Sementara, di luar kawasan kerajaan, Solo mengungkapkan lapisan lain dari narasi sejarahnya melalui arsitektur kolonial Belanda yang mencolok. Saat menjelajahi bagian-bagian kota yang lebih tua, khususnya di sekitar Jalan Slamet Riyadi, kita akan menemukan perpaduan yang memikat antara pengaruh Eropa dan Jawa. 

Bangunan-bangunan elegan dengan fasad yang megah, jendela-jendela tinggi, dan atap genteng yang khas berdiri sebagai saksi bisu dari era yang telah berlalu. Bangunan itu, dulunya merupakan kantor administrasi, tempat tinggal, atau rumah perdagangan, kini sering kali menjadi toko, kafe, atau bahkan kantor pemerintahan setempat, yang secara mulus mengintegrasikan sejarah ke dalam kehidupan kontemporer. 

Pasar Gede Hardjonagoro, pasar tradisional utama Solo, sendiri terletak di dalam bangunan indah peninggalan era kolonial, menawarkan pengalaman sensorik yang semarak di dalam dinding bersejarah.

Cita rasa

Yang benar-benar membedakan Solo ialah “suasana tentram” yang tak terabaikan. Tidak seperti dua kota besar lain di sekitarnya, yang lebih hiruk pikuk, Solo memancarkan rasa tenang dan pesona yang tidak terburu-buru. Penduduk setempat terkenal dengan keramahannya, sering menyambut pengunjung dengan senyum tulus dan kesediaan untuk berbagi budaya mereka. 

Berjalan-jalan di sepanjang jalan yang dipenuhi pepohonan, menikmati secangkir kopi lokal di kafe warisan budaya, atau sekadar mengamati kehidupan sehari-hari yang berlangsung menawarkan rasa kedamaian yang mendalam.

Taman Sriwedari. (Postmodum)

Ya, Solo adalah mutiara di mana tradisi dijunjung tinggi, terlihat dari kerajinan batik yang rumit, musik gamelan merdu yang sering terdengar dari jendela yang terbuka, dan adat istiadat penuh hormat yang mengatur interaksi sehari-hari.

Pesona Solo meluas ke dunia kulinernya, yang merupakan perjalanan kuliner yang lezat. Jangan lewatkan untuk mencoba makanan khas lokal seperti Nasi Liwet (nasi gurih yang dimasak dengan santan), Sate Buntel (sate daging domba cincang yang dibungkus lemak), dan Selat Solo (salad daging sapi Jawa yang menyegarkan). 

Kota ini juga merupakan pusat batik yang terkenal, dan mengunjungi bengkel batik menawarkan wawasan yang menarik tentang bentuk seni yang rumit ini. Pelancong bahkan dapat mencoba membuat karya seni sendiri.

Solo menyimpan sejarah dan budaya yang tak hilang dimakan zaman. Ia adalah destinasi yang benar-benar menyejukkan jiwa. Perpaduan harmonis antara warisan kerajaan Jawa, arsitektur kolonial Belanda yang terpelihara dengan baik, dan suasana yang sangat baik menciptakan pengalaman yang memperkaya dan sangat menenangkan. 

Mampirlah ke sini, Solo menawarkan perjalanan tak terlupakan untuk kembali ke masa lalu. Setiap pengunjung yang datang pasti kelak kembali lagi karena keramahan penduduk dan kelezatan kulinernya. (P-1

Related posts

Mozaik Pesastra Venezuela 

Oasis Golden Hour : Pesona Pantai Padang-Padang di Uluwatu

Vikings dalam Sinema Dunia