PAGI belum beranjak pergi saat satu per satu pengunjung mulai berdatangan silih berganti. Mereka melewati paviliun era kolonial yang menampilkan sejarah literasi Indonesia. Pajangan media tulis tradisional seperti lontar dan bambu tampak rapi di mata. 

Di belakang, monolit kaca dan beton setinggi 126,3 meter berdiri sebagai penentangan yang tenang terhadap kebisingan digital abad ke-21. Ya, Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas) di Jalan Medan Merdeka Selatan, Nomor 11, Jakarta Pusat, bukan sekadar tempat penyimpanan buku, namun perjalanan vertikal 24 lantai melalui jiwa kepulauan Nusantara. 

“Bahan informasi di sini dapat diakses oleh setiap orang. Ada koleksi buku-buku mancanegara yang banyak diminati peneliti karena koleksinya dari berbagai bahasa,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, dalam sebuah diskusi santai di ruang kerjanya, pada Senin, 9 Februari 2026. 

Menurut Suharyanto, perpustakaan tidak sekadar tempat untuk menampung buku demi menunjang kebutuhan pembaca. Namun jauh dari itu, perpustakaan ialah sebuah tempat menopang peradaban di Republik ini. 

Menapaki lantai demi lantai Gedung Perpusnas, kita dapat mendefinisikan kembali apa yang dapat dilakukan oleh sebuah lembaga publik. Memadukan fasilitas penelitian berteknologi tinggi dengan suasana yang tenang, hampir meditatif. Ini tempat menarik keingintahuan mahasiswa, digital nomad, dan penggemar sejarah untuk menggali informasi. 

Saat memasuki lobi, pengunjung disambut oleh “rak buku menuju surga”—sebuah instalasi setinggi empat lantai yang berfungsi sebagai manifesto visual perpustakaan. Namun, harta karun sesungguhnya terletak jauh lebih tinggi. 

BELAJAR: Para siswa/i mengikuti aktivitas belajar bersama pemustaka. (Postmodum)

Sekawanan pelajar dari SMA Muhammadiyah 8 Ciputat, Tangerang Selatan, asyik melihat-lihat pajangan di lobi.  Divi, salah satu pelajar itu, mengaku sedang mencari bahan pustaka tugas sekolahnya. “Ada tugas pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu pembuatan puisi dan cerpen. Jadi, saya datang bareng teman-teman ke Perpusnas,” cetusnya, sumringah. 

Ya, setiap pengunjung bisa mencari informasi yang diperlukan. Menariknya, ada bahan-bahan bacaan kuno dan langka yang bisa diakses di Lantai Sembilan dan 14. Bagi para peneliti, lantai-lantai ini barangkali tempat yang sakral. Ada lebih dari 19.000 manuskrip kuno, termasuk harta karun yang diakui UNESCO seperti Nagarakretagama dan Babad Diponegoro. 

Perpusnas menawarkan tempat persinggahan yang tepat dan laik dikunjungi sebagai pusat literasi bangsa!

Saat kita melangkah dan menapak di lantai tersebut, seakan menawarkan lingkungan yang tenang di mana aroma kertas tua bertemu dengan ketelitian pelestarian modern. Dan, terkadang bercampur wangi parfum dari satu atau dua pengunjung. 

Pusat pengetahuan umum di Lantai 21 dan 22 seakan menjadi pusara. Deretan monograf terbuka mencakup setiap subjek yang dapat dibayangkan. Di sini, suasana berubah menjadi suasana produktivitas yang terfokus. Tidak seperti ruang belajar yang sempit di masa lalu, lantai-lantai ini memiliki tata ruang terbuka yang luas, tempat duduk ergonomis, dan sudut baca “santai” dengan bean bag

Di batas cakrawala 

Di cakrawala eksekutif di Lantai 24, dapat menjadi perjalanan mencapai puncak Perpusnas, yang menawarkan pemandangan panorama Monumen Nasional (Monas) yang menakjubkan. Ini seringkali menjadi tempat untuk konferensi pers, pertemuan antar pustakawan dan peneliti, serta area favorit bagi mereka yang membutuhkan “jeda” visual di antara berjam-jam penelitian mendalam. 

Pada tahun 2026, Perpusnas telah memperkuat perannya sebagai pemimpin digital. Meskipun koleksi fisiknya melebihi empat juta item, jangkauan digitalnya sama mengesankannya hingga ke desa-desa. 

Melalui ruang multimedia khusus di Lantai 19 dan ruang diskusi pribadi, fasilitas ini melayani generasi baru pekerja pengetahuan. Suasananya ditata dengan cermat. Lantai bawah ramai dengan energi keluarga dan anak-anak (Lantai Tujuh), sementara lantai atas mempertahankan ketenangan untuk belajar.

BERPOSE: Pustakawan Juli Odor Nainggolan berpose di kantornya. (Postmodum)

Yang membedakan Perpusnas dari perpustakaan akademik biasa adalah komitmennya untuk menjadi “museum hidup”. Berbagai kegiatan mulai dari membaca nyaring (out loud), lokakarya, seminar, hingga pameran tetap telah berlangsung dengan apik. 

“Kami telah menggelar berbagai kegiatan, seperti membaca nyaring di kalangan anak-anak. Begitu juga pemutaran film agar bisa dinikmati pengunjung,” tutur Ketua Kelompok Substansi Layanan Jasa Informasi dan Referensi Digital Perpusnas, Juli Odor Nainggolan

Sebagai pusat literasi dan informasi, Perpusnas juga menunjang inklusivitas, dengan layanan khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas di Lantai Tujuh, termasuk koleksi Braille yang lengkap. Begitu pula bagi mahasiswa PhD yang mempelajari manuskrip Sufi abad ke-17 atau seorang pelancong yang mencari tempat tenang dengan pemandangan indah, Perpusnas menawarkan tempat persinggahan yang tepat dan laik dikunjungi sebagai pusat literasi bangsa. (P-1