MENENGOK perjalanan perpuisian Venezuela dapat memberikan kita sedikit angin segar. Negara itu tidak hanya memiliki kekayaan minyak bumi, namun melahirkan para penyair besar yang mengguncang kesusastraan dunia. 

Berbicara tentang pesastra flamboyan dalam sejarah Venezuela, percakapan biasanya berpusat pada seorang tokoh besar, yaitu Andrés Bello (1781–1865). Namun, dua penyair lainnya yang juga memberikan sumbangsi besar patut kita kenali, yaitu Eugenio Montejo dan Rafael Cadenas. 

Meskipun “terbaik” bersifat subjektif dalam seni, Bello ialah arsitek intelektual bangsa Venezuela yang tak terbantahkan. Dia bukan hanya seorang penyair, namun seorang polimat yang membentuk bahasa Spanyol sebagai identitas Amerika Latin. 

Karya-karya “Patriark Sastra Amerika,” julukan Bello, itu sangat penting dalam transisi sastra Venezuela, mulai dari akar kolonial ke suara yang berbeda sampai dengan independen. Mahakarya Bello berjudul Silva a la agricultura de la zona tórrida.

Puisi ini berkisah tentang tanah air yang subur, penuh dengan persaudaraan, dan semarak lanskap Amerika Selatan yang begitu asri. Puisi tersebut mendorong orang untuk berpaling dari kekacauan perang dan menemukan identitas di tanah air mereka. 

Andrés Bello.

Pengaruh Bello dalam dunia kepenulisan, berdampak ketika dia menulis Gramática de la lengua castellana, yang masih menjadi referensi tentang bagaimana rakyat Venezuela berbicara bahasa Spanyol saat ini. Dia ingin memastikan bahwa meskipun Amerika Selatan menjadi merdeka secara politik, bahasanya tetap bersatu dan elegan. 

Perjalanan perpuisian Venezuela sangat menarik dilirik. Karya-karya kontemporer atau “lebih gelap” bisa ditemukan pada karya Eugenio Montejo (1938–2008). Jika menonton film 21 Grams, kita pasti akan mendengar puisinya. 

Montejo dicintai karena hubungannya yang mendalam dan metafisik dengan bumi dan perjalanan waktu. Dia menulis dengan banyak persona yang berbeda (heteronim) dan menciptakan seluruh alam semesta seakan bersuara. Karya utamnya berjudul Terredad (Kebumian).

Sementara itu, penyair legendaris hidup yang banyak diperbincangkan di seantero dunia, yaitu Rafael Cadenas (1930–Sekarang). Gaya menulisnya minimalis, namun sangat mendalam. Dia menjauh dari bahasa yang berbunga-bunga untuk menemukan kebenaran “esensial” dari eksistensi. 

Karya utama Cadenas berjudul Derrota (Kekalahan), semacam sebuah “lagu kebangsaan” generasi muda bagi banyak orang di Venezuela. Dia termasuk dalam generasi Venezuela tahun 1960-an. Cadenas merupakan bagian dari grup Tabla Redonda, bersama dengan Arnaldo Acosta Bello, Jesús Guédez, Ángel Eduardo Acevedo, Darlo Lancini, José Barroeta, dan Sanoja Hernández.

Dia banyak menerjemahkan puisi Inggris. Dia pun pernah menjadi profesor universitas. Karya esainya yang luas dianggap sebagai referensi pemikiran sastra kontemporer dalam bahasa Spanyol. Dua judul esainya, seperti En torno al lenguaje dan Apuntes sobre San Juan de la Cruz y la mística

Gaya menulis Rafael Cadenas minimalis, namun sangat mendalam. Dia menjauh dari bahasa yang berbunga-bunga untuk menemukan kebenaran esensial dari eksistensi. 

Bagi Cadenas, menulis serupa panggilan jiwa. Dia telah menghasilkan lebih dari 20 buku yang terkenal secara internasional. Karya puisi dan esainya telah memberinya banyak penghargaan. Sebut saja, San Juan de la Cruz Prize (1992), Mozarteum Foundation of Venezuela Prize (1993), FIL Prize for Literature in Romance Languages (2012), Federico García Lorca International Poetry Prize (2015), dan Queen Sofia Prize for Ibero-American Poetry (2018). 

Bahkan, Cadenas juga mendapatkan berbagai pengakuan di negaranya, seperti gelar doktor kehormatan dari Universitas Pusat Venezuela dan Penghargaan Andrés Bello dari Akademi Bahasa Venezuela. Namanya harum karena membawa pencerahan dalam sastra. 

Jalan terjal

Perjalanan Cadenas muda tergabung dalam Partai Komunis, selama kediktatoran Marcos Pérez Jiménez (25 April 1914 – 20 September 2001). Namun, situasi politik memaksanya untuk melewati jalan terjal dan mengasingkan diri antara 1952 dan 1956. Kemudian hari, Cadenas menjauh dari urusan partai dan ideologinya selama bertahun-tahun demi fokus menulis. 

Eugenio Montejo.

Pada 2022, Cadenas didapuk menerima penghargaan Miguel de Cervantes (“Nobel” sastra Spanyol) dari King Felipe VI untuk dedikasinya dalam pengembangan bahasa Spanyol. Penghargaan itu diberikan oleh Kementerian Kebudayaan dan Olahraga Spanyol dengan apresiasi uang senilai 125,000 euro (setara Rp.2,5 M). 

Ketika menerima penghargaan, Cadenas bahkan tidak menerima ucapan selamat apapun dari rezim Presiden Nicolas Maduro setelah pengumuman penghargaan Cervantes. Maklum, politik masa lalu membuat dia untuk lebih bijak. 

“Saya belum menerima ucapan selamat, dan saya juga tidak mengharapkannya. Saya tidak sependapat dengan rezim ini, tetapi saya juga tidak ikut campur dalam politik,” kata penyair itu kepada surat kabar El Nacional.

Kemajuan perpuisian Venezuela tidak terlepas dari bahasa Spanyol yang digunakan sebagai bahasa resmi negara-negara Amerika Selatan. Tanpa disadari kebudayaan Spanyol pun tumbuh subur ke masyarakat kelas atas sampai kelas bawah hingga ini hari. 

Tak dinyana, corak utama ketiga penyair besar di atas cukup beragam. Bello dikenal karena pengaruhnya dalam neoklasik, alam, tata bahasa, dan identitas nasional Venezuela. Sementara Montejo dikenal karena bergaya  liris/metafisika, modernitas, naturalis, dan nostalgia. Berbeda dengan Cadenas yang bergaya minimalis/filosofis, realitas, keheningan, dan kejujuran intelektual. 

Puisi-puisi penyair Venezuela sangat lekat dengan tanah air dan perjuangan untuk kebebasan, baik politik maupun pribadi. Kita bisa menemukan bahwa Bello menghadirkan pemandangan mega dan luas. Berbeda dengan pengamatan tajam dan tenang ala Cadenas. Ada banyak hal yang dapat dipetik lewat kesusastraan Venezuela. (P-1

Catatan redaksi: Foto sampul diambil oleh Vasco Szinetar