MENYAMBUT musim semi, ada sebuah tradisi hidangan lezat Rusia yang masih disuguhan sampai sekarang. Ya, namanya blini, salah satu hidangan tertua yang berasal dari zaman pagan sebelum abad ke-9. 

Kata “blini” diadaptasi dari “mlyn,” kata kerja “menggiling” dalam bahasa Rusia. “Melin” atau “mlyn” berarti produk yang terbuat dari tepung giling. Di Indonesia, blini serupa dengan panekuk alias kue dadar. 

Blini memiliki satu kesamaan, yaitu hidangan yang terbuat dari tepung dan cairan. Biasanya digoreng atau dipanggang di atas api. Di era sekarang, api tersebut paling sering berupa kompor. 

Di Rusia, orang-orang mulai memanggang blini selama periode pagan dan menyebutnya roti persembahan. Dahulu kala, membuat adonan blini merupakan ritual sakral. Ibu rumah tangga menggunakan beberapa jenis tepung dan resep adonan awal dirahasiakan dengan ketat sehingga diwariskan dari generasi ke generasi. 

Dipercaya bahwa jika blini dibuat di dekat perairan, rasanya akan paling enak. Blini juga harus dibuat dalam suasana hati yang ceria, tanpa amarah atau sumpah serapah. Secara tradisional, blini dimakan dengan tangan, tanpa menggunakan alat makan. 

Masyarakat percaya bahwa memotong atau menusuk blini akan membawa nasib buruk. Tentu saja, saat ini kita makan panekuk dengan cara yang sesuai dengan cara kita dan tempat yang berada. 

Beberapa abad yang lalu, blini dipanggang dalam oven tradisional dengan kayu perapian. Itulah mengapa masyarakat Rusia masih mengatakan “memanggang blini” daripada “menggoreng blini,” meskipun hanya sedikit orang yang masih menggunakan oven untuk menyiapkan hidangan ini. 

MENYAMBUT musim semi. (Postmodum/RSSU)

Wajan besi cor diolesi minyak dan adonan dituangkan ke dalamnya. Dengan menggunakan garpu khusus, wajan diletakkan langsung ke dalam oven, di mana blini dipanaskan dari semua sisi dan dipanggang.

Awalnya, blini adalah hidangan pemakaman di Rusia. Bahkan hingga saat ini, terutama di desa-desa, blini yang tebal dan sangat mengenyangkan selalu dipanggang untuk upacara pemakaman. 

Fakta menarik lainnya bahwa dahulu kala para wanita diberi makan blini pada malam sebelum melahirkan, agar jiwa-jiwa orang yang telah meninggal membantu dan melindungi mereka. Bisa dikatakan bahwa seseorang memulai hidupnya dengan blini dan mengakhirinya dengan blini juga. 

Maslenitsa

Sulit membayangkan perayaan musim semi tradisional Maslenitsa tanpa blini. Di zaman kuno, dewa Maslenitsa disebut Marena. Di beberapa daerah, boneka itu dikubur di tanah, di daerah lain, boneka itu dicabik-cabik dan disebar di ladang. 

Menurut salah satu teori, perayaan ini bermula sebagai ritual pertanian untuk kesuburan. Orang-orang percaya bahwa orang yang meninggal, saat dikubur di bumi, dapat memengaruhi kesuburan tanah. Dan pada hari terakhir minggu Maslenitsa—Minggu Pengampunan—orang-orang pergi ke pemakaman, mengucapkan selamat tinggal, dan membawa blini

PERAYAAN Maslenitsa bermula sebagai ritual pertanian untuk kesuburan. (Postmodum)

Beberapa sejarawan Rusia mengatakan bahwa hari raya ini awalnya jatuh pada ekuinoks musim semi, pada 22 Maret. Dengan berakhirnya musim dingin, bangsa Slavia kuno mempersembahkan blini kepada dewa matahari Yarilo. Hal itu dilakukan agar hawa dingin berlalu dan musim semi yang hangat tiba. 

Dengan masuknya agama Kristen, Maslenitsa dikaitkan dengan kalender gereja dan mulai dirayakan pada minggu terakhir sebelum masa Prapaskah. Perayaan pun dilakukan dengan penuh sukacita dan sukaria. 

Saat ini, blini pada Maslenitsa melambangkan kemenangan matahari atas musim dingin dan datangnya musim semi. Banyak orang di Rusia terbiasa memanggang blini selama minggu Maslenitsa dan menyajikannya kepada tamu dan anggota keluarga. (P-1

Recent Article