SENI melukis telah menjelma jalan pintas bagi Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, untuk mengekspresikan sisi humanisme dan kecintaannya pada alam. 

Sejak purna tugas, karya-karyanya tidak hanya menghiasi galeri pribadi di Pacitan. Namun juga, menjadi instrumen penggalangan dana kemanusiaan melalui berbagai ajang lelang bergengsi di Jakarta. 

Di usia opa-opa kini, Yudhoyono kian menjadikan seni sebagai panggilan bertugas. Ya, ada sedikit nuansa politik bercampur seni di sana. Pasalnya, ia adalah pendiri Partai Demokrat yang kini sedang berusaha untuk menghadapi persaingan Pemilu 2029 mendatang. 

Pemilihan medium seni sebagai alat politik memang bukan hal baru dalam kancah perpolitikan dunia. Salah satu pemimpin dunia terkemuka yang dikenal karena karir seninya ialah George Walker Bush, Presiden Amerika Serikat (AS) ke-43. Sejak meninggalkan jabatannya pada tahun 2009, ia telah beralih dari “tidak tertarik pada seni” menjadi pelukis yang produktif. 

Karya Bush sangat populer di kalangan publik dan kurator profesional. Ia juga telah menulis beberapa buku seni terlaris. Termasuk, Portraits of Courage (2017), yang menghormati veteran militer, dan Out of Many, One (2021), yang menampilkan potret imigran Amerika. Sedangkan lukisan-lukisannya telah dipamerkan di George Bush Presidential Center di Dallas dan Harry Truman Presidential Library & Museum. 

Seni dan politik

Selain Bush, beberapa pemimpin dunia lainnya telah meraih pengakuan atas karya seni mereka. Hal itu berdasarkan pada estetika karya yang dibangun dengan serius dan bukan sekadar mencari sensasional semata. 

Barangkali pula ketika para pemimpin dunia menciptakan karya seni, mereka tidak lagi memikirkan “harga” jual. Namun, “nilai” kemanusiaan yang diutamakan. Sekadar menyebut sederet politikus dunia yang memilih seni sebagai bagian dalam hidup mereka. 

Pertama, Winston Churchill (Perdana Menteri Inggris) begitu dekat dengan lukisan. Meskipun bukan presiden, Churchill mungkin adalah “negarawan-seniman” yang paling terkenal. Ia menghasilkan lebih dari 500 lukisan minyak impresionistik tentang lanskap dan pemandangan laut. 

Kedua, Jimmy Carter (Presiden AS ke-39). Seorang pelukis dan pengrajin kayu seumur hidup, Carter telah menghasilkan lebih dari 100 karya. Beberapa di antaranya telah dilelang dengan harga lebih dari $1 juta untuk kepentingan Carter Center. 

PRESIDEN Amerika Serikat ke-43, George Bush, sedang melukis pada 2024 lalu. (Postmodum/Arsip George Bush Presidential Center)

Ketiga, Edi Rama (Perdana Menteri Albania). Ia adalah mantan profesor seni dan pelukis profesional. Rama unik karena terus melukis di kantornya sambil menjabat sebagai pemimpin nasional. Karyanya telah dipamerkan di galeri-galeri besar di seluruh Eropa dan AS. 

Keempat, Dwight David Eisenhower (Presiden AS ke-34). Ia mulai melukis pada usia 58 tahun untuk relaksasi. Tak terduga, ia menghasilkan sekitar 250 karya. Terutama, lanskap dan potret, selama masa kepresidenannya dan masa pensiunnya.

Lelang lukisan dan kemanusiaan

Publik bertanya-tanya tentang motif Yudhoyono memberikan karya-karyanya untuk dilelang. Bahkan, terjadi pergunjingan di antara sesama seniman, baik di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, maupun seniman Indonesia di luar negeri. Meski begitu, hasil fantastis lelang telah memberikan sebuah arti tentang harga sebuah karya seni. 

Melihat secara jeli, maka lukisan karya Yudhoyono telah dilelang selama beberapa kali. Lukisan-lukisan fenomenal “presiden-seniman” itu dilelang untuk tujuan amal. Terkini ialah karya berjudul Kuat dan Energik Laksana Kuda Api (130 x 80 cm, 2026). 

Lukisan ini mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah lelang karya Yudhoyono. Itu terjadi dalam acara Perayaan Imlek Partai Demokrat di Djakarta Theater, pada 18 Februari 2026. 

“Partai Demokrat laksana ‘kuda api’ ini. Punya semangat, punya determinasi, punya kekuatan, dan punya tujuan. Semuanya untuk kebaikan negeri Indonesia,” tutur Yudhoyono seperti disitat dari YouTube Partai Demokrat.

Karya lukisan Kuat dan Energik Laksana Kuda Api menampilkan kuda biru dengan surai oranye menyerupai api. Kuda biru melambangkan perdamaian, sedangkan kuda api mencerminkan tekad dan energi untuk mencapai tujuan. Karya itu terjual senilai Rp6,5 Miliar yang dibeli oleh Low Tuck Kwong, pendiri Bayan Resources dan orang terkaya kedua di Indonesia. 

“Seluruh hasil lelang disalurkan untuk bantuan masyarakat prasejahtera, khususnya masyarakat keturunan Tionghoa dan korban bencana,” ujar Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, anak pertama sang pelukis, seusai acara lelang. 

Pada 2025, Yudhoyono juga mengamalkan karya lukis untuk dilelang. Karya berjudul God’s Day / Hari Tuhan (2025) menjadi sebuah karya yang lahir dari refleksi mendalamnya atas tragedi bencana alam. Lelang digelar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), pada 23 Desember 2025. Karya tersebut laku senilai Rp311 Juta yang dibeli oleh seorang pengusaha muda bernama Juned.

PERDANA Menteri Albania, Edi Rama, saat membuka pameran pribadi pada 2015 silam. (Postmodum/Arsip Edi Rama)

Lukisan God’s Day menggunakan media cat minyak di atas kanvas. Lukisan ini menggambarkan pemandangan banjir bandang berwarna kecoklatan yang menyapu desa-desa. Hasil lelang semuanya didonasikan untuk korban bencana banjir di Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Selain itu, karya berjudul Peace with Nature (150 cm x 300 cm, 2025) juga dilelang secara terbatas. Itu merupakan sebuah karya kolosal Yudhoyono yang menonjolkan keindahan lanskap. Lukisan media campuran ini memadukan fragmen alam Indonesia seperti gunung, hutan, burung, dan ombak bergulung dengan warna-warna yang berani. 

Dalam proses lelang lukisan Kuat dan Energik Laksana Kuda Api, misalnya, menjadi nilai tertinggi sepanjang karir Yudhoyono dalam berkesenian. Pada lelang itu, persaingan sempat berlangsung sengit melibatkan tokoh ternama seperti pengusaha Hermanto Tanoko (bos cat Avian) dan YouTuber Deddy Corbuzier. 

Pemerhati Seni, Oei Hong Djien, turut hadir dalam acara lelang Partai Demokrat, itu. Ia menilai bahwa reputasi Yudhoyono sebagai tokoh nasional secara signifikan mendongkrak nilai tawar karyanya, melampaui sekadar kualitas teknis lukisan itu sendiri. (P-2

Catatan redaksi: Foto sampul diambil dari cuplikan layar YouTube PD

*

Recent Article