BEGITU melangkah melewati pintu kaca galeri, kebisingan klakson kota mendadak luruh, digantikan oleh keheningan yang bernapas. Di hadapan pintu masuk, dinding-dinding putih itu seolah tidak lagi memikul beban pigmen padat, melainkan jendela menuju momen-momen yang dicuri dari waktu. 

Pada pameran lukisan bersama bertajuk Woman’s Colorful Life di Pop Up Gallery Talenta, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, pelukis nasional Wiwik Oratmangun menatap sejenak ke salah satu karyanya berjudul “Coastal Blossom” (80 x 100 cm, acrylic on canvas). Ia menyentuh perlahan sudut kanan kanvas dengan jemarinya yang lembut sembari tersenyum kepada pengunjung yang hadir. 

“Ini semua tentang alam dan keindahannya. Dalam perjalanan ke setiap lokasi, saya menyukai bunga sehingga saat melukis langsung dimasukkan ke atas kanvas,” ucapnya di sela-sela pembukaan pameran lukisan bersama pada Kamis, (22/1) sore. 

Orang-orang silih berganti masuk ke galeri. Ada yang datang bersama kekasih, rekaman, dan keluarga masing-masing. Aneka kue dan minuman hangat pun disuguhi. Maklum, cuaca musim hujan di luar sedikit dingin sehingga cocok untuk ngopi sore sembari menatap karya lukis di dinding. 

Nama Wiwik sudah tidak asing lagi dalam panggung seni lukis. Ia mengawali proses kreatif melukis saat di Moskwa, Rusia, pada 2012. Wiwik ialah istri dari diplomat Djauhari Oratmangun yang kini menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok. Tak heran, beberapa karya Wiwik juga terinspirasi dari “Negeri Tirai Bambu”, di mana keindahan alamnya mampu diejawantah ke dalam bentuk seni sebagai sebuah diplomasi budaya. 

TIGA PELUKIS: Dari kiri ke kanan, yaitu Erica Hestu Wahyuni, Novi Suwondo, dan Wiwik Oratmangun. (Postmodum)

Pada pameran yang berlangsung hingga Sabtu, (21/2) mendatang itu, Wiwik kembali unjuk karya bersama dua rekan pelukis perempuan lainnya. Mereka adalah pelukis asal Yogyakarta Erica Hestu Wahyuni dan pelukis pendatang baru Novi Suwondo. Ketiga srikandi itu menghadirkan masing-masing corak yang unik, enak dilihat mata, dan penuh estetika. Setiap sosok memiliki decak kagumnya tersendiri dalam menampilkan karya visual nan elegan. 

Menyimak secara dekat karya “Coastal Blossom”, Wiwik nampak lebih matang dalam perjalanan kesenimanannya. Lewat karya itu, terlihat lanskap yang hidup. Ia mampu menangkap pemandangan padang berbunga yang seakan menyatukan darat dan langit secara tenang melalui sapuan kuas yang ekspresif dan bertekstur.

Lukisan tersebut termasuk dalam genre impresionis. Gayanya memprioritaskan “kesan” sang seniman terhadap suatu pemandangan daripada detail yang tepat dan fotografis. Wiwik menggunakan sapuan cat yang tebal, terutama di area bunga berwarna merah muda dan hijau, untuk menciptakan tekstur fisik. Hal ini membuat cahaya tampak “memantul” dari permukaan kanvas.

Secara dekat, karya “Coastal Blossom” menggunakan perpaduan harmonis antara biru dan hijau dingin yang kontras dengan merah muda dan kuning yang hangat dan cerah. Ini menciptakan kesan sebuah musim semi yang cerah dan bermandikan sinar matahari. Pendekatan terhadap alam di sini bersifat romantis dan atmosferik. 

Komposisi dalam karya menggunakan teknik “bingkai alami”. Dua hamparan bunga liar dan tanaman hijau yang lebat menjulang di kedua sisi latar depan, menarik perhatian pengunjung ke arah jalur sempit air biru cerah di tengah.

Lukisan ini menciptakan kesan kedalaman dengan transisi dari bunga-bunga yang sangat detail dan bertekstur di latar depan ke sapuan yang lebih lembut. Itu nampak menyatu pada langit dan cakrawala yang jauh. Semuanya seperti kenyataan. 

Tak diayal, langit bukanlah blok warna yang solid, melainkan campuran warna putih dan berbagai nuansa biru, yang menunjukkan awan yang bergerak dan sumber cahaya yang lembut dan menyebar. Sapuan vertikal pada rumput tinggi di sebelah kiri memberikan kesan hembusan angin sepoi-sepoi. 

Kreativitas

Melalui karya “Coastal Blossom”, Wiwik semakin melebarkan sayapnya dan memantapkan karirnya dalam seni lukis secara bebas, lepas, dan penuh estetika. Ia tidak sekadar mengikuti arus genre impresionis kebarat-baratan, namun teguh memadukannya dengan alam oriental yang bersahaja sebagai “paku bumi” dalam berkarya. 

Karya-karya Wiwik lainnya dalam pameran bersama kali ini mengusung pemandangan alam. Tengok saja, karya lainnya, seperti “Whispering Fields of Scarlet” (80 x 100 cm, acrylic on canvas, 2024), “Early Autumn” (80 x 100 cm, acrylic on canvas, 2020), “Flower Blooming” (80 x 100 cm, acrylic on canvas, 2020), dan“Late Summer” (80 x 100 cm, acrylic on canvas, 2020). 

PENGUNJUNG: Melihat lukisan berjudul “Sweet Nature”. (Postmodum)

Lalu, ada juga karya berjudul “Sweet Nature” (80 x 100 cm, acrylic on canvas, 2021), “Colors of Peacock” (100 x 80 cm, acrylic on canvas, 2021), dan “Waltz of the Flower” (100 x 100 cm, acrylic on canvas, 2022). Semuanya memiliki ikatan batin dan alam, tempat Wiwik singgah dalam pelawatan ke negara-negara empat musim. 

Sementara itu, melalui pameran “Woman’s Colorful Life”, Erica yang telah berlanglang buana dalam seni rupa Indonesia dan dunia, menyajikan empat karya menarik, salah satunya berjudul “Once Upon a Time of Samkok – Three Kingdoms” (58 x 68 cm, acrylic on canvas and wood carved, 2025). 

Sebagai catatan, Erica adalah pelukis yang juga seorang alumnus magister dari Institut Seni Rupa Moskwa dinamai V. I. Surikov. “Pameran ini penting sebagai bagian untuk menunjukkan dunia kreativitas perempuan. Kami berkeinginan untuk terus berpameran bersama, baik di dalam maupun luar negeri. Saya pernah berkarya dan belajar di Moskwa sehingga suatu hari ingin berpameran di sana,” ucap Erica, sumringah. 

Di tempat yang sama, Novi juga hadir dalam pembukaan pameran. Ia menyuguhkan tujuh  karya dengan corak dan khas budaya lokal. Salah satunya berjudul “Pasar Kangen” (80 x 60 cm, acrylic on canvas, 2025). Latar belakang tradisi khas Yogyakarta disajikan lewat obyek yang juga menarik dilihat dalam pameran tersebut. 

Lewat “Pasar Kangen”, Novi menyajikan kemeriahan sebuah pasar tradisional yang penuh hiburan. Dari karyanya, ada simbol bahwa bahagia itu sesungguhnya sederhana. Perlu kehangatan dalam menghayati rasa cukup atas keadaan realisme sosial. 

Pameran lukisan ini memberikan bukti bahwa kreativitas selalu menjadi tumpuan. Masing-masing pelukis berhasil menuangkan ide cemerlang ke atas kanvas.

Persahabatan

Pemerhati seni asal Surabaya Heti Palestina Yunani mengungkapkan pameran bersama kali ini menghadirkan keakraban persahabat, antara Erica, Wiwik, dan Novi. Tak secara langsung, pengaruh-pengaruh Erica pada karya dua sahabatnya yang selalu dipanggilnya sebagai “Bestie” itu kian mengemuka. Tak terlihat wantah pada kesamaan visual lagi, tapi pada spirit. 

“Erica sesungguhnya mentor, namun ia memosisikan dirinya kian setara dengan siapa pun yang baru kemudian melebur dengan warna. Kerelaannya mendampingi siapa-siapa yang menuju kesintasan atau kemandirian diri, membantu Erica menjaga kestabilan untuk terus berkarya,” papar Heti. 

Melalui pameran “Women’s Colorful Life”, ketiga Srikandi berhasil memainkan kuas secara lembut untuk menghasilkan karya yang dapat menginspirasi banyak orang. Semua dihadirkan sebagai bukti tentang ketajaman mata hati dan batin perempuan dalam menarikan jemari-jemarinya secara total di atas lembaran kanvas. 

Wiwik, Erica, dan Novi bukan baru berkolaborasi. Mereka bertiga juga sempat melakukan pelawatan budaya ke Fukuoka, Jepang, pada November 2025 lalu. Karya-karya mereka sempat dipamerkan kepada publik setempat pada sebuah pameran bersama di Fukuoka Asian Art Museum. 

Di luar galeri, suara gemuruh halilintar sesekali betalu-talu di atas wuwungan langit. Satu per satu pengunjung mulai meninggalkan galeri. Estetika lukisan tiga Srikandi itu seakan mengendap dalam ingatan kita yang hadir untuk mengapresiasi perkembangan seni di Tanah Air. (P-2